Sabtu, 04 Juni 2016

Ringkasan Bab II Landasan Teori dan Kerangka Berpikir : Muhammad Putera Sukindar

A.    Landasan Teori

1.      Hakikat Kesantunan Percakapan

H.G Tarigan mengatakan bahwa terdapat tujuh hierarkial satuan-satuan bahasa dalam linguistik, yakni : fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Dalam hal ini tentu saja wacana merupakan bagian tertinggi dalam subsistem struktural linguistik karena wacana merupakan hubungan antara kalimat dengan kalimat lainnya. Teori ini diperkuat oleh Ahmad HP yang pada intinya perlu beberapa kalimat untuk membuat sebuah wacana, sehingga membuat wacana sebagai tataran paling tinggi dalam linguistik.

Ahmad HP juga turut menjelaskan bahwa wacana terbagi atas dua sifat, yaitu :

1.      Transaksional, yaitu jika yang dipentingkan isi komunikasi itu. Seperti pidato, ceramah tuturan, dakwah, deklamasi, intruksi, iklan, surat, esai, tesis, dan sebagainya

2.      Interaksional, yaitu komunikasi timbal balik. Seperti percakapan, debat, tanya jawab, polemik, suirat menyurat dan sebagainya.

Maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi dapat terjadi melalui satu arah ataupun dua arah, yang sama fungsinya sebagai menyampaikan tujuan dari komunikasi, yaitu menyampaikan keinginan atau informasi melalui bahasa.

      Brown dalam Tarigan yang mengungkapkan bahwa “melalui wacana kita saling : 1) menyapa, menegeur, 2) meminta, memohon, 3) menyetujui, menyepakati, 4) bertanya, meminta keterangan, 5) meyakinkan, 6) menyuruh, memerintah, 7) mengeritik, mengomentari, 8) memaafkan, mengampuni : dan lain-lain.

Dan Tarigan juga menjelaskan : Analisis wacana adalah telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa. Kita menggunakan bahasa dalam kesinambungan atau untaian wacana. Tanpa konteks, tanpa hubungan-hubungan wacana yang bersifat antar kalimat dan supra kalimat maka kita akan sukar berkomunikasi dengan tepat satu sama lain. Dengan itu wacana dapat ditelaah melalui hubungan tindak bahasa yang berpusat pada ujaran dan konteks situasinya.

Dengan itu dalam komunikasi tentunya ilmu pragmatik hadir untuk menyelimuti setiap tuturan. Meski pada dasarnya ilmu pragmatik hadir karena adanya ketidakpuasan para linguis dalam menganalisis bahasa secara intra bahasa, namun di sinilah fungsi pragmatik sebagai kajian interdisipliner antara bahasa dengan faktor-faktor lain di luar bahasa.

Menurut Morris dalam Tarigan mengatakan bahwa pragmatik lahir dari semantik yang terbagi atas tiga pokok bahasan, yaitu sintaksis, semantik, dan pragmatik. Dengan sintaksis mengutamakan kalimat sebagai objek kajian, semantik mengutamakan proposisi seagai objek kajian, dan pragmatik mengutamakan konteks sebagai objek kajian.

Suhartono dalam bukunya Pragmatik mengatakan bahwa konteks merupakan hal mutlak yang perlu dikuasai dalam memaknai bahasa dalam kajian pragmatik. Dengan begitu, tanpa konteks sebuah komunikasi tidak dapat diteliti. Kemudian Suhartono juga turut mengemukakan 7 prinsip mengenai pragmatik :

1.      Pragmatik lebih mengutamakan makna interpretasi daripada makna representasi
2.      Pragmatik umumnya dikendalikan oleh prinsip (retoris) bukan oleh kaidah (gramatikal)
3.      Pragmatik pada prinsipnya dimotivasi oleh tujuan percakapan bukan oleh kaidah-kaidah tata bahasa yang bersifat konvensional
4.      Pragmatik mengutamakan upaya pemecahan masalah daripada memperhatikan kaidah-kaidah
5.      Pragmatik mengutamakan upaya pemecahan masalah daripada memperhatikan kaidah-kaidah
6.      Pragmatik lebih menekankan pada fungsi interpersonal daripada fungsi ideasional.
7.      Pragmatik diperiksa berdasarkan nilai yang sinambung (kontinum) dan intdeterminasi (tidak pasti) bukan berdasarkan kategori-kategori diskret dan determinasi (pasti)

Sam Muchtar Chaniago, Mukti U.S, dan Maidar Arsyad mengatakan bahwa bentuk-bentuk pragmatic dapat diklasifikasikan dalam beberapa bentuk dari beberapa segi dan tinjauannya, seperti Tindak Tutur yang dibagi menjadi tindak tutur lokusi, Implikatur yang terbagi atas dua, Anafora dan katafora, Prinsip kerjasama, dan yang terakhir yakni praanggapan. Dengan itu dapat diambil kesimpulan bahwa pragmatic terklasifikasikan sedemikian rupa untuk keberlangsungan hubungan antar peserta tutur yang baik, dan tetap memperhatikan kesantunan, maksud dan tujuan dari komunikasi.

Leech dalam buku The Principal of Pragmatic mengatakan bahwa sopan santun merupakan komplemen yang perlu, yang dapat menyelamatkan prinsip kerjasama atau suatu kesulitan yang serius. Dengan kata lain komplemen yang penting untuk membangun komunikasi yang baik.

            Suryono juga mengatakan bahwa tindak tutur (speech act) seseorang yang ditujukan pada orang lain atau pendengar dapat bersifat bebas, akan tetap karena dalam bertutur menyangkut pribadi orang lain, maka penutur harus mengikuti aturan pergaulan dalam bentuk sikap da bahasa yang sopan. Dengan itu, pemilihan kata atau kalimat merupakan strategi-strategi penting yang digunakan dalam melaksanakan teori kesantunan dalam berkomunikasi.

            Menurut Leech dalam buku “prinsip-prinsip pragmatic”, maksim-maksim kesopanan cenderung berpasangan, seperti 1) Maksim kearifan yang diartikan buat kerugian orang lain sekecil mungkin, dan buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin. 2) Maksim kedermawanan yang diartikan sebagai buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin dan buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin. 3) Maksim pujian yang diartikan sebagai kecamlah orang lain sesedikit mungkin dan pujilah prang lain sebanyak mungkin. 4) Maksim kerendahan hati yang diartikan sebagai pujilah diri sendiri sesedikit mungkin dan kecamlah diri sebanyak mungkin. 5) Maksim kesepakatan yang diartikan sebagai usahakan agar ketaksepakatan antara diri dan lain terjadi sesedikit mungkin dan usahakan agar kesepakatan antara diri dengan lain terjadi sebanyak mungkin. 6) Maksim simpati yang diartikan sebagai kurangilah rasa antipasti antara diri dengan lain hingga sekecil mungkin dan tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya antara diri dan lain.

Kesantunan dinilai dari beberapa hal melalui maksim yang berbeda-beda, walaupun terdapat maksim yang hampir mengecohkan yaitu maksim kedermawanan dan maksim kearifan. Tapi dengan itu Leech juga melihat konteks untuk menafsirkan suatu kalimat, terutama perilaku para peserta tutur dalam mengungkapkan sebuah kalimat.

Kunjana Rahardi juga turut menjelaskan teori Leech dalam bukunya, berikut adalah pendapat yang disusun dalam Pragmatik Kesopanan Imperatif bahasa Indonesia :

1.      Maksim Kebijaksanaan : gagasan dari maksim kebijaksanaan adalah bagaimana peserta pertuturan tetap berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkahn keuntungan pihak lain.
2.      Maksim kedermawanan : Dalam maksim ini peserta pertuturan diharapkan dapat menghormati orang lain.
3.      Maksim penghargaan : Pada prinsip penghargaan dijelaskan bahwa orang akan dianggap santu apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain.
4.      Maksim kesederhanaan : Pada maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati, diusahakan agar peserta tutur bersikap rendah hati dengan mengurangi pujian terhadap diri sendiri.
5.      Maksim pemufakatan : diusahakan agar peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur
6.      Maksim kesimpatisan : mengharapkan agar peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antar pihak yang satu dengan pihak yang lainnya.

Terdapat tiga kaidah yang perlu dipatuhi agar ujaran terdengar santun oleh pendengar, di antaranya adalah skala Formalitas yang menunjukan agar peserta tutur dapat merasa nyaman dan kerasan dalam kegiatan bertutu, tutur yang digunakan tidak boleh bernada memaksa dan tidak boleh berkesan angkuh.Lalu ada Skala ketidaktegasan, maksudnya bahwa setiap peserta tutur harus dapat saling merasa nyaman dan kerasan dalam bertutu, pilihan-pilihan dalam bertutur harus diberikan kepada kedua belah pihak. Berbeda dengan skala yang lainnya, skala kesamaan atau kesekawanan, maksudnya adalah menunjukan agar peserta tutur bersifat santun satu sama lain agar lingkungan persahabatan selalu terjaga.

Dari beberapa pendapan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prinsip kesantunan dalam pragmatic ada ilmu yang menelaah tindak linguistic atau konteks sebagai alat analisisnya dan disertai tujuan akhir yang mengusahakan orang lain sebagai mitra tutur tidak merasa dirugikan oleh penutur, bahkan penutur dituntut untuk menyenangkan petutur sebagai bentuk sopan santun berbahasa.

2.      Hakikat Percakapan pelajar

Percakapan juga biasanya disebut sebagai komunikasi, dalam kegiatan berkomunikasi penutur dan petutur melakukan kegiatan bertukar informasi atau hanya sekedar menyampaikan keinginannya.

Dari hal tersebut Djago Tarigan dan H.G. Tarigan dalam Isvina Riadiany mengatakan bahwa dialog atau percakapan adalah suatu bentuk komunikasi lisan yang dilakukan dimana saja dan kapan saja oleh dua orang atau lebih yang menekankan interaksi antar pembicara dan pendengar. Oleh karena itu maka dapat disimpulkan bahwa percakapan adalah wacana secara lisan yang dapat dilakukan pada situasi apapun dan dengan siapa saja.

Tidak berbeda jauh dengan pendapat di atas, I Dewa Putu Wijana dalam dasar-dasar Pragmatik juga menyampaikan bahwa berbahasa dengan lisan atau tutur yang melibatkan orang lain secara bergantian saling bertanya jawab, disebut percakapan.

Selai pengertian percakapan, hakikat percakapan pelajar juga erat kaitannya dengan pengertian pelajar. Setiap manusia berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran. Dalam aktivitas kehidupan manusia sehari-hari, manusia hampir tidak pernah lepas dari kegiatan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan, tidak ada ruang dan waktu dimana manusia dapat melepas dirinya dari kegiatan belajar, dan itu berarti pula bahwa belajar tidak pernah dibatasi usia, tempat maupun waktu, karena perubahan yang menuntut terjhadinya aktivitas belajar itu juga tidak pernah berhenti.

Terdapat beberapa jalut dalam menempuh pendidikan, yaitu pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang dan terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Menurut Wikipedia dalam laman yang berjudul Pendidikan Nonformal disebutkan bahwa pendidikajn ini berfungsi mengembangkan potensi peserta dididik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

Beberapa teori dan pendapat beberapa ahli mengenai hakikat pelajar yang dibahas di atas menyimpulkan bahwa pelajar merupakan seseorang yang berada dalam masa transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa dan sedang menempuh pendidikan secara formal.
C.     Kerangka Berpikir

Seorang manusia tentunya tidak akan lepas dari sebuah komunikasi. Komunikasi adalah sebuah cara untuk menyampaikan informasi atau keinginannya kepada orang lain. Percakapan yang menurpakan kegiatan komunikasi oleh dua orang atau lebih, tentunya tidak akan lepas dari ilmu Pragmatik. Pragmatik merupakan ilmu yang menelaah bahasa dengan mendapingi konteks sebagai analisisnya, dengan kata lain sebuah tuturan tidak dapat diartikan begitu saja tanpa melihat konteks pembicaraanya.

Dalam komunikasi hendaknya setiap penutur dan lawan tutur menggunakan bahasa yang santun agar masing-masing mitra tutur merasa dihargai dan senang berbicara dengan kita. Oleh karena itu, tidak cukup hanya dengan mematuhi aturan percakapan saja, akan tetapi diperlukan pula aturan kesantunan dalam berbahasa.

Salah satu ilmu yang memegang teguh keharmonisan antar peserta tutur adalah prinsip kesantunan. Prinsip kesantunan merupakan prinsip yang mengusahakan orang lain sebagai mitra tutur agar tidak merasa dirugikan oleh penutur, bahkan penutur dituntut untuk menyenangkan petutur sebagai bentuk sopan santun berbahasa.


BALAS DENDAM EKA LEWAT NOVEL BARUNYA YANG BERJUDUL “O” : MUHAMMAD PUTERA SUKINDAR

Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Maret 2016
Tebal: 470 halaman
ISBN:  9786020325590


            Sejak Desember 2015 para pengagum Eka Kurniawan rela menunggu-nunggu novel “O” ini, yang akan diterbitkan oleh Gramedia awal bulan Maret 2016. Sastrawan yang digadang-gadangkan sebagai salah satu pelopor aliran realisme magis ke Indonesia ini, sebetulnya sudah menggarap novel “O” sejak 2008. Yang berarti novel ini secara historis merupakan novel ke tiga Eka Kurniawan sesudah Cantik itu luka (2002), Lelaki harimau (2004), dan sebelum novel Seperti dendam rindu harus dibayar tuntas (2014).

            “Tentang seorang monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut” begitulah yang tertera di cover belakang buku barunya. Secara garis besar buku ini memang menceritakan tentang perjalanan seekor monyet yang bernama O, yang berusaha menjadi manusia untuk mengikuti jejak kekasihnya Entang Kosasih yang sudah duluan berubah menjadi manusia. Inilah keunikan Eka, selalu memiliki ide-ide yang unik dan segar sehingga menantang setiap orang untuk membaca bukunya.

            Di Rawa Kalong tempat O, dan Entang kosasih tinggal terdapat sebuah legenda dimana cerita tersebut berisi tentang seekor monyet yang berubah menjadi manusia. Tokoh tersebut bernama Armo Gundul. Di sinilah awal kisah bermula, ketika Entang Kosasih begitu terobsesi menjadi manusia. Begitu banyak terjadi perubahan di Rawa Kalong. Salah satunya Entang Kosasih yang menjadi manusia.

            Hal tersebut tentu membuat O ingin pula menjadi manusia, agar dapat mencintai kembali seutuhnya cinta Entang Kosasih. Agar dapat menjadi manusia harus pula belajar dari manusia itu sendiri, begitulah yang para monyet Rawa Kalong percayai. Jadi O percaya bahwa bekerja sebagai topeng monyet merupakan salah satu cara untuk menjadi manusia. Kurang lebih novel ini menceritakan tentang perjuangan O, hiruk pikuk perjalanannya, dan tokoh-tokohnya yang diceritakan begitu menarik oleh Eka Kurniawan.

            Selain itu, seolah-olah novel yang sampulnya terdapat gambar monyet ini membawakan pesan tersirat setelah novel sebelumnnya Cantik itu luka mendapat kritik mengenai banyaknya tokoh-tokoh tidak penting yang hadir. Dan O, hadir untuk menampik itu semua. Kedasyatan dalam penuturan cerita, gaya bercerita (memiliki bentuk yang sama dengan novelnya Seperti rindu dendam harus dibayar tuntas), dan penyelesaikan psikologi tokoh yang hadir pada novel tersebut dilakukan dengan cerdas oleh Eka Kurniawan. Meskipun gaya penceritaan seperti ini berpotensi memusingkan pembaca, tapi lainhalnya dengan apa yang diterapkan oleh Eka. Hal tersebut tentu dijamin dapat memanjakan, dan membuat kenyang para pembacanya.


            Meskipun tanpa editor, Eka dapat menyelesaikan tulisannya ini dengan apik. Sehingga tidak ada barang beberapa kalimat atau katapun yang dapat memusingkan para pembacanya. Yang ada malah pembaca dibuat terus ingin membacanya, dan semakin dibuat penasaran. Lantas, apakah O berhasil menjadi manusia demi mengikuti jejak kekasihnya Entang Kosasih?  

Pelajaran dari Bapak lewat Handycam

oleh Ulya Yurifta


Judul : Sabtu Bersama Bapak

Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : Juni 2014
Cetakan : Pertama
Tebal : 278 hlm
Harga : 48.000

Pada kesempatan ini, saya akan meresensikan buku Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Buku tersebut tergolong novel. Sebelum saya meresensikan, kita perlu mengetahui pengertian resensi itu sendiri, setelah tau akan pengertian resensi tersebut, kita juga patut tahu tujuan dari resensi itu apa. Menurut Gorys Keraf, resensi adalah tulisan yang berisi tentang ulasan atau penilaian terhadap suatu karya tulis atau buku. Oleh karena itu, resensi lebih dikenal dengan istilah ulasan atau bedah buku. Tujuan resensi menurut Gorys Keraf adalah untuk menginformasikan kepada masyarakat mengenai suatu karya tulis ditinjau dari segi keunggulan serta kelemahan.


Novel SBP ( Sabtu Bersama Bapak) saya akan menjelaskan dengan menggunakan teori Gorys Keraf, yang dimana teori tersebut ada 4 poin. Yang pertama ada poin latar belakang, di latar belakang mencakup tema, ringkasan, identitas, dan pengenalan pengarang. Di tema saya memberikan judul Pesan bapak di dalam handycam, karena bapak Gunawan disini memberikan banyak pelajaran melalu sebuah handycam. Ringkasan yang saya petik dari novel tersebut adalah Seorang bapak yang memberikan banyak pelajaran kepada anak-anaknya melalui video yang direkam dalam handycam, dan ditonton dalam waktu yang tepat. Dan novel SBP ini adalah novel ke-5 Adihitya, dan saat tahun 2013 tepat 10 tahun Adhitya berkarier dibidang menulis.


Lalu lanjut ke Nilai buku, yang dimana dapat saya pahami dari novel tersebut mempunyai banyak hikmah yang bisa kita petik. Mulai dari seorang bapak yang mengajari banyak hal dari sebuah video, yang dimana si bapak tidak akan bertahan lama hidupnya. Buku ini pantas dibaca untuk kalangan remaja, dewasa bahkan orang tua. Dan buku Sabtu Bersama Bapak akan di film kan (dibulan April) dan sudah masuk cetakan keempat belas ditahun 2015. Novel SBP ini berjenis fiksi karena bukunya bersifat novel.


Keunggulan novel ini, dari covernya saja sudah bagus, menurut saya tidak terkesan norak, malah lucu dan membuat para pembeli ingin membelinya, dengan judul yang unik, sampul novel yang tidak mencolok warna. Untuk kertas novel ini saya suka, karena tidak licin, namun warna kertas tersebut cepat menguning. Dari animasi yang dibuat untuk bab yang sedang membahas bapak Gunawan sedang berbicara di handycam ada animasi seperti layar handycam, menurut saya disana ada unsur estetika yang bagus. Untuk struktur kalimat, menurut saya kalimatnya bisa dipahami, bahasanya tidak kaku dan terkesan bahasa kesehari-harian kita saja. Namun, hubungan antara kalimatnya terkesan agak sulit, karena Hubungan antara kalimat dari bab ke bab lainnya tidak jelas awalnya,karena alurnya yang maju-mundur, mundur maju. Tetapi jika kalian membaca dari awal pasti akan bisa merangkai cerita yang disuguhkan. 



Bunda Lisa: Samudra dan Angkasa yang Bernyanyi Memeluk Mimpi Oleh Ganesa Sangga Buana

Penulis: Jombang Santani Khairen
Editor: Hermawan Aksan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Februari 2014
Tebal: XIII + 268 halaman
ISBN: 978-602-03-0223-2

Tulisan akan terasa berasa jika memang benar benar orang yang ada di tulisannya itu memang benar adanya.Apalgi bisa menjadi panutan untuk para pembaca tulisan itu.Bunda Lisa yang dibawakan dalam sebuah bentuk novel ini sangat menarik.Ditulis oleh seorang sastrawan muda yang bernama Jombang Santani Khairen.Dengan bertemakan keluarga dan semua cerita itu dimulai.Novel ini menceritakan sosok wanita yang bernama Lisa.Bersuamikan seorang dosen di salah satu Universitas Negeri di Indonesia dan memiliki dua anak yang menempuh pendidikan di Luar Negeri.Perjuangan yang ditampakan oleh Jombang  sebagai penulis untuk Lisa sungguh membuat hati ingin sedih.Saat suaminya menyelesaikan pendidikan untuk menjadi guru besar,peran lisa sangat besar.Disaat suaminya mulai putus asa dan memang finansial di keluarganya pas-pasan,lisa dengan semangat menyusul ke negeri seberang untuk memberi semangat kepada suaminya. Perjuangan anak anaknya yang menempuh pendidikan di luar negeri pun menambah warna dalam novel ini.2 anak yang berusaha hidup di kerasnya cosmopolitan dan jauh dari orang tua merupakan beban sendiri untuk orang tua.Dan perjuangan dalam mendirikan sekolah kutilang yang tadinya hanya untuk warga sekitar yang kurang mampu dan akhirnya memiliki banyak murid.

            Dibawa dengan alur mundur oleh penulis untuk mengetahui bagaimana cikal bakal sekolah kutilang itu,perjuangan mendorong suaminya dan anak anaknya.Bahasa yang digunakan mudah dipahami dan enak untuk dibaca.Banyak nilai yang bisa diadopsi untuk semua kalangan.Dengan bahasa dan jalan cerita yang asik,buku ini sangat cocok untuk dibaca semua kalangan juga.Buku ini layak untuk masuk list bacaan yang menginspiratif. Untuk para calon ibu bisa dijadikan motivasi dan untuk para pria pun bisa untuk lebih mengerti pasangan hidupnya.Bahwa yang saling memotivasi itu akan bahagia walau  terhimpit cobaan .

(RINGKASAN SKRIPSI) TRANSITIVITAS DALAM ANTOLOGI CERPEN Kaki yang Terhormat Karya GUS TF SAKAI

Oleh : Ganesa Sangga Buana
A.Hakikat Linguistik Fungsional Sistematik
Linguistik fungsional sistematik ini dipelopori oleh M.A.K.Halliday yang menjelaskan bahwa pada dasarnya bahasa didasarkan atas fungsi.Makna merupakan fokus kajian dan objek studi utamanya adalah language that is functional,yaitu bahasa yang memainkan fungsi dalam kehidupan nyata manusia.Halliday mengungkapkan,terdapat tiga fungsi bahasa sebagai makna yang tercermin pada struktur bahasa,yaitu fungsi ideasional,fungsi interpersonal,dan fungsi tekstual.Halliday menyebut tiga fungsi itu sebagai metafungsi.
A.1.Fungsi Ideasional
Fungsi ideasional berkaitan dengan kandungan dasar dari suatu bentuk bahasa,yaitu makna.Artinya,bahwa bahasa sebagai pengungkap pengalaman lahir dan batin manusia,dalam hal ini penutur/penulis.Fungsi ini berperan untuk mengungkapkan pengalaman lahir serta batin pengguna bahasa atas realita yang berlangsung dalam kehidupannya.
A.2.Fungsi Interpersonal
            Fungsi interpersonal merupakan fungsi bahasa yang mengungkapkan dan membentuk hubungan sosial,peran sosial,serta tujuan pengguna bahasa dalam komunikasi bahasa dalam hal ini klausa,yang diwujudkan melalui modus dan modalitas.
A.3.Fungsi Tekstual.
Fungsi tekstual merupakan fungsi bahasa yang berperan untuk menurutkan struktur informasi dalam teks atau wacana berdasarkan tema dan rema,pemilihan makna yang koheren,dan pemilihan perangkat kohesi yang tepat.
B.Hakikat Transitivitas
            Transitivitas merupakan realisasi fungsi ideasional bahasa yang direpresentasikan oleh klausa berdasarkan perbedaan hubungan antara peran partisipan yang terlibat dalam suatu proses,serta kemungkinan sirkumstann atau keterangan yang menyertainya.
B.1.Proses
            Dalam klausa,proses dinyatakan oleh verba.Dengan kata lain proses merupakan suatu pekerjaan atau aktivitas yang terealisasi melalui verba dalam klausa.Halliday mengungkapkan ada enam tipe ,yaitu proses tindakan(material),proses mental, proses relasional,proses behavioral,proses verbal,dan proses eksistensial.
B.1.a.Proses Material
            Proses material merupakan perbuatan dan kejadian yang menyangkut fisik.Setiap material proses melibatkan partisipan actor,sedangkan beberapa proses,tetapi tidak semua,melibatkan partisipan sekunder,yakni sasaran(goal).
B.1.b.Proses Mental
Proses mental terjadi dalam diri manusia sendiri.Proses mental merupakan proses yang menggambarkan perasaan atau pikiran yang sifatnya konkret.Partisipan yang terlibat dalam proses mental adalah perasa(senser) dan fenomena (phenomenon).
B.1.c.Proses Relasioal
Proses relasional berfungsi menghubungkan suatu entitas dengan hal lain dalam hubungan intensif,sirkumstan,atau kepemilikan dengan cara identifikasi (identifying),dan atributif (attributive).Secara struktur,proses relasional atributif( attributive) melibatkan elemen atribut (attribute) dan penyandang (carrier ),sedangkan proses mental identifikas i(identifying) melibatkan penunjuk (identifier) dan tertunjuk (identified ).
B.1.d.Proses Behavioral
Proses behavioral berhubngan aksi yang telah atau pasti dilakukan oleh semua orang secara sadar atau tidak.Klausa proses behavioral hanya melibatkan satu partisipan,yakni pemerilaku (behaver),yang tipikalnya mirip dengan perasa (senser) dalam proses mental.
B.1.e.Proses Verbal
Proses verbal merupakan proses mengatakan (saying) yang telah menggambarkan pengertian cukup besar,pengertian yang mencakup beberapa symbol yang bermakna.Ada 3 partisipan yaitu pengujar (sayer):partisipan yang bertangung jawab atas proses verbal, penerima (receiver):peran yang menerima proses verbal,dan perkataan (verbiage):hal atau sesuatu disampaikan pengujar kepada penerima-berupa pernyataan yang mengekspresikan beberapa kebiasaan verbal.
B.1.f.Proses Eksistensial
Proses eksistensial dalam klausa mencakup serta menggambarkan suatu keberadaan atau kejadian yang diekspresikan melalui verba keberadaan,diirinig dengan pertisipan yang berperan sebagai eksistent.
B.2.Partisipan
Sudaryanto mengemukakan bahwa partisipan memiliki peran tersendiri dalam suatu proses.Sebagai objek yang berperan menjalani proses yang dijalani suatu proses.
B.3.Sirkumstan
Sirkumstan merupakan kondisi yang terkait dalam proses yang dilakukan oleh pelaku.Jenis sirkumstan dalam ada rentang dan lokasi termasuk didalamnya waktu serta tempat”cara,sebab,penyerta,masalah,dan peran.
C.Hakikat Wacana Cerpen
Dikatakan bahwa cerpen merupakan wacana transaksional karena telah menyampaikan informasi dalam bentuk pesan yang tersaji dalam bentuk kalimat kalimat dan proposisi proposisi yang saling terhubung dengan konteks.
D.Kerangka Berpikir
Fungsi ideasional berusaha mengungkap ide melaui peran yang ada dalam klausa atau kalimat dalam antologi cerpen Kaki yang terhormat karya Gus Tf Sakai.Cerpen ini merupakan karya sastra realis.
E.Definisi Konseptual
Transitivitas merupakan realisasi fungsi ideasional bahasa yang direpresentasikan oleh klausa.Yakni verba dalam klausa sebagai proses,peran partisipan yang terlibat dalam proses,serta kemungkinan sirkumstan atau keterangan penjelas dan latar situasi dalam suatu klausa
F.Definisi Operasional

Transitivitas dalam antologi cerpen Kaki yang Terhormat adalah realisasi dari fungsi ideoasional.Yang diwujudkan melalui klausa berdasarkan perbedaan hubungan antara peran partisipan yang terlibat dalam suatu proses,serta kemungkinan sirkumstan atau keterangan yang menyertainya.

CAMPUR KODE PADA PERCAKAPAN GURU DAN SANTRI DI MADRASAH ALIYAH MAMBAUL ULUM PONDOK PESANTREN ASSHIDDIQIYAH JAKARTA

Oleh: Yudha Prasetya


BAB II
2.1 Landasan Teori
            Dalam bab ini dideskripsikan mengenai hakikat sosiolinguistik, hakikat bilingualisnme, hakikat campur kode, jenis-jenis campur kode, penyebab campur kode, bahasa asing dalam bahasa Indonesia, pondok pesantren, dan kerangka berpikir.

Berkonspirasi Di Balik Cerita yang Indah Oleh Yudha Prasetya


Judul:  Cerita Buat Para Kekasih
Penulis: Agus Noor
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Tebal: 277 halaman
Edisi: I, November 2014
Harga: Rp 49.000

            Cerita Buat Para Kekasih merupakan buku yang dibuat oleh sastrawan Indonesia yang terkenal, yaitu Agus Noor. Buku ini adalah buku yang berjenis fiksi yaitu buku kumpulan cerpen. Cerpen-cerpen yang berada di dalam buku kebanyakan bercerita tentang pembunuhan. Tapi tentunya juga ada cerita yang bersifat romantis. Seperti nama judulnya, buku ini memang terdapat semacam narasi dimana narasi tersebut seolah-olah adalah percakapan antara seseorang dengan kekasihnya. Cerita-cerita yang dituang dikemas dengan baik oleh Agus Noor.