Tampilkan postingan dengan label Tugas 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas 3. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2016

Bab 2 Landasan Teori dan Kerangka Teori (Ringkasan oleh Arry Dwi Prasetyo)

RINGKASAN
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA TEORI

2.1 Landasan Teori
Bab ini menjelaskan tentang landasan teori yang terdiri dari teori – teori neurolinguistik dan linguistik. Teori neurolinguistik yang akan digunakan berkaitan dengan beberapa hal terutama pada afasia Broca dan afasia Wernicke, dan teori linguistiknya merupakan acuan analisis gangguan fonologi keluaran wicara penderita  afasia Broca dan afasia Wernicke.

2.1.1 Hakikat Otak Manusia
Seluruh sistem saraf manusia terdiri dari dua bagian utama, yaitu tulang punggung dan otak manusia. Segala ihwal yang dilakukan manusia dikendalikan oleh sistem saraf ini. Otak berbentuk segumpal darah berwarna kelabu dan rumit. Didalamnya mengalir berjuta – juta arus listrik kecil untuk menyampaikan informasi dan memberikan perintah ke seluruh bagian tubuh.
Sistem otak terdiri dari otak besar, otak kecil, dan batang otak. Otak besar terbagi lagi menjadi kiri dan kanan. Keduanya terdiri dalam bagian yang disebut lobus yang sama yaitu bagian depan (lobus frontal), samping(lobus temporal), tengah(lobus pariental), belakang(lobus oksipital).
1.      Bagian Otak Besar (serebrum)
-          Lobus frontal yang terletak di bagian dahi depan merupakan pusat bicara, pusat ini yang membuat manusia berbicara dengan lancar.
-          Lobus temporal adalah bagian yang bertanggung jawab soal ingatan dan juga berperan dalam hal pengertian bahasa(reseptif).
-          Lobus parietal adalah bagian yang memungkinkan manusia dapat merasakan sesuatu melalui indra perasa, terletak di bagian tengah di permukaan korteks dan akan menerjemahkan apa yang dirasakan.
-          Lobus Oksipital merupakan pusat penglihatan. Di bagian ini manusia mengerti apa yang dilihat karena telah diproses atau diintegrasi.

2.      Otak Kecil (cerebellum)
Adalah struktur yang melekat pada batang otak melalui peduncles cerebellar yang muncul seperti otak kedua yang lebih kecil. Otak kecil terletak di arkiserebellum flokulono dulari, yaitu bagian cerebellum yang letaknya paling bawah yang mendapat asupan dari sistem vestiburalis dan berfungsi mengurus keseimbangan. Otak kecil berfungsi mengontrol keseimbangan dan  seluruh aktivitas motorik dikoordinasi oleh otak kecil.
3.      Batang otak (trunkus serebri)
Pada gerak volunter, batang otak merupakan jalur yang dilalui impuls rangsang sebelum mencapai serebrum. Batang otak ini berfungsi menyalurkan informasi ke atau dari otak..
            Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem saraf manusia terdiri dari dua bagian utama, yaitu tulang punggung dan otak manusia.

2.3 Definisi Konseptual
Gangguan fonologi merupakan salah satu aspek gangguan berbahasa dan kelainan berbicara. Gangguan fonologi terjadi  pada alat – alat ucap yang disebabkan adanya kerusakan pada sistem saraf pusat. Aspek – aspek gangguan fonologi adalah:
1)      Penghilangan bunyi(omisi)
2)      Penambahan bunyi(adisi)
3)      Penggantian bunyi(substitusi)
4)      Ketidakjelasan bunyi (distorsi)

2.4 Definisi Operasional
Gangguan fonologi seseorang dapat diketahui apabila orang tersebut dalam keadaan berbicara, yaitu  :
1.      Banyaknya penghilangan bunyi baik vokal maupun konsonan yang dihilangkan oleh penutur.
2.      Banyaknya penambahan bunyi baik vokal maupun konsonan yang ditambahkan oleh penutur
3.      Banyaknya penggantian bunyi baik vokal maupun konsonan yang diganti oleh penutur.

Bab 2 Landasan Teori (Ringkasan oleh Mia Karnia Sari)

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Psikologi Sastra
Banyak ragam definisi yang merujuk pada pengertian psikologisebagai ilmu mengenai kejiwaanyang menekankan studinya pada manusia, terutama pada perilaku manusia. Kejiwaan ini tidak teramati namun, tercermati oleh indera, dalam hal ini berupa perilaku.
Hilgard seorang teoritikus memandang perilaku sebagai objek studi, mendefinisikan psikologi sebagai berikut: “ Psychologymay be defined as the science that studies behavior of man” Definisi tersebut menjelaskan bahwa kejiwaan adalahilmu yang mempelajari perilaku manusia dan dikaitkan dengan gejala-gejala kejiwaan manusia.
Berdasarkan pengertian dan definisisingkat tersebut, psikologi dapat dikategorikan menjadi (1) the scientific study of behavior of humans being (ilmu atau kajian ilmiah tentang perilaku manusia) dan (2) the scientific study of the human psyche (ilmu atau kajian ilmiah tentang jiwa manusia).
Psikoanalisis adalah wilayah kajian psikologi sastra, yang akan berusaha mengungkap psikoanalisis kepribadian yang dianggap meliputi tiga unsur kejiwaan, yaitu Id ( aspek kepribadian yang gelap dalam alam bawah sadar manusia yang berisi insting dan nafsu tak kenal nilai ); ego (perilakunya yang berupa prinsip kenyataan ); super ego ( yang mengontrol dorongan-dorongan “buta” dari Id tersebut ).
Analisis kejiwaan atau yang biasa disebut dengan psikoanalisis biasanya hanya memakai objek kajian manusia. Namu, jika dikaitkan dengan ilmu sastra, asumsi dasar psikoanalisis ini terbagi menjadi dua hal, yaitu kajian psikologi pengarang karya sastra dan kajian psikologi tokoh dalam karya sastra. Penjelasan asumsi dasar tersebut berupa: (1) kajian psikologi terhadap pengarang merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar atau subsconcius setelah jelas baru dituangkan ke dalam bentuk secara sadar atau conscius. (2) Kajian perwatakan tokoh secara psikologis melihat seberapa jauh pengarang mampu menggambarkan perwatakan tokoh sehingga karya menjadi semakin hidup.
2.2 Novel
Novel adalah satu karya fiksi berbentuk prosa naratif. Sama halnya dengan  bentuk prosa lain seperti cerpen (cerita pendek). Dari segi cerita, novel lebih panjang dari cerpen. Oleh karena itu, novel dapat mengemukakan secara lebih bebas, menyajikan lebih banyak, lebih rinci,detail, danmelibatkan berbagaimasalahyang lebih kompleks. Goldman mendefinisikan novel sebagai pencairan yang tergradasi akan nilai-nilai yang otentik dalam dunia yang juga tergradasi.

Unsur-unsur yang mendukung terciptanya sebuah novel berupaplot, tema, tokoh, dan latar. Novel memiliki lebih dari satu tema, yaitu tema dan subtema dalam penceritaannya. Oleh karena itu tema menjudi dasar pengembangan seluruh cerita, maka ia pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita tersebut.  Plot dalam sebuah novel berfungsi menjelaskan katerkaitan antara peristiwa yang dikisahkan secara linear.plot berisikan runtutan-runtutan kejadian yang dihubungkan dengan sebab akibat dengan peristiwa lainnya. Tokoh yang ditampilkan dalam novel biasanya banyak dan ditampilkan lebih lengkap. Istilah penokohan mencakup permasalahan tentangsiapa tokoh cerita, bagaimana sifatnya dan bagaimana mempresentasikannya kepada pembaca. Latar atau setting disebut yang disebut juga sebagai landas tumpu yang merujuk pada tempat,waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. 

KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM KUMPULAN CERPEN MATINYA SEORANG PENARI TELANJANG KARANGAN SENO GUMIRA AJIDARMA: SUATU KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA (Ringkasan oleh Faisal Fathur)

KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM KUMPULAN CERPEN MATINYA SEORANG PENARI TELANJANG KARANGAN SENO GUMIRA AJIDARMA: SUATU KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
2.1 LANDASAN TEORI
2.1.1 Teori Struktural
Kajian sastra secara struktural tidak menjadikan sebuah karya sastra tertentu sebagai objek kajian, karena yang menjadi objek kajiannya ialah sistem yang membangun setiap karya sastra yang ada. Studi sastra struktural berupaya menggali dan mendeskripsikan sistem sastra yang mendasari segala praktik kesusastraan.
Desmon McCarty mengatakan bahwa dunia prosa merupakan struktur yang meliputi plot, tokoh, latar, pandangan hidup, dan nada yang merupakan unsur yang perlu dipelajari jika ingin membandingkan sebuah prosa dengan kehidupan atau jika ingin menilai secara etik atau sosial sebuah karya. Strukturalisme menekankan pada kajian antarunsur pembangun karya yang bersangkutan.

2.1.1.1 Hakikat Cerpen
Cerita pendek atau cerpen adalah cerita yang mampu habis dibaca sekali duduk. (Edgar Allan Poe, dalam Nurgiyantoro) & (William Henry Hudson, dalam Pradopo) Tak ada ketentuan atau aturan pasti tentang panjang pendeknya suatu cerpen. Variasi cerpen terbagi dalam short short story, middle short story, dan long short story. Secara garis besar, cerita pendek merupakan bentuk penuangan pengalaman manusia.

2.1.1.2. Struktur Cerpen
Tema
Secara hakikat, tema merupakan pijakan dalam penceritaan yang merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra. Tingkatan tema menurut Shipley (dalam Nurgiyantoro) adalah tingkat fisik, organik, sosial, egoik, dan divine. Tiap cerpen hanya berisikan satu tema, karena ceritanya pendek.

Plot
Secara hakikat plot: plot disebut sebagai rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama dan menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan ke arah klimaks dan penyelesaian, dengan rangkaian awal-tengah-akhir. Peristiwa, konflik, dan klimaks menentukan eksistensi plot dan kualitas serta kemenarikan sebuah cerita. Plot tersembunyi dibalik jalan cerita.

Tokoh
a. Penokohan
Merupakan penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu pada sebuah cerita. Tokoh cerita (Abrams) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspressikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Penokohan digunakan untuk menggambarkan rupa dan watak para tokoh cerita.

b. Pembedaan tokoh
Pembedaan tokoh terbagi atas tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama ialah tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita. Tokoh tambahan merupakan tokoh yang dimunculkan dalam porsi penceritaan yang relatif pendek.
Penokohan yang baik ialah penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat.

2.1.2 Psikologi Sastra
Menurut Hilgard, psikologi merupakan “Psychologymay be defined as the science that studies behavior of man” Definisi tersebut menjelaskan bahwa kejiwaan adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan dikaitkan dengan gejala-gejala kejiwaan manusia.

2.1.3 Konflik Batin
Jenis konflik batin disebutkan Dirgagunarsa (dalam Sobur, 2009:292-293), bahawa konflik batin memepunyai beberapa bentuk, anatara lain sebagai berikut: Konflik MendekatMendekat (Approach-Approach Conflict), Konflik Mendekat-Menjauh (ApproachAvoldance Conflict), Konflik Menjauh-Menjauh (Avoldance-Avoidace Conflict).

2.1.3.1 Sistem Komunikasi Interpesonal
Menurut Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. dalam Psikologi Komunikasi, sistem dalam komunikasi interpersonal terbagi atas: Persepsi Interpersonal, Konsep Diri, Atraksi Interpersona, dan Hubungan Interpersonal.

2.1.3.2 Teori-teori Faktor Gangguan Batin
Freud (dalam Kusumawati, 2003: 33) Menyatakan bahwa faktor-faktor yang memegang peranan penting dalam beberapa gangguan batin antara lain: 1) teori agresi, 2) teori kehilangan, 3) teori kepribadian, 4) teori kognitif, 5) teori ketidakberdayaan, dan 6) teori perilaku.

2.1.3.3 Hierarki Kebutuhan Maslow
A.H. Maslow membentuk suatu hierarki kebutuhan yang tersusun atas 1) kebutuhan fisiologis, 2) kebutuhan rasa aman, 3) kebutuhan akan cinta dan kebersamaan, 4) kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri.

2.2 KERANGKA BERPIKIR
Kerangka berpikir yang dilakukan oleh peneliti yaitu membedah novel dengan pendekatan psikologi sastra. Melalui pendekatan tersebut, ditemuilah fokus mengenai pengkajian tentang konflik batin. Setelahnya, peneliti memaparkan hasilnya dalam bentuk naratif deskriptif.

Pemertahanan Bahasa Melayu Betawi di Kecamatan Kemayoran: Suatu Tinjauan Linguistik (Ringkasan oleh Claudia Putri)

Ringkasan 
Skripsi BAB II
“Pemertahanan Bahasa Melayu Betawi di Kecamatan Kemayoran: Suatu Tinjauan Linguistik”


2.1.1 Hakikat Kedwibahasan
Dalam kajian sosiolinguistik, hakikat kedwibahasaan cenderung berfokus pada variasi bahasa yang muncul di masyarakat biasanya dapat ditelusuri karena keberadaan berbagai stratifikasi sosial dalam masyarakat. Blomfiled menerangkan kedwibahasaan dalam Rusyana sebagai penguasaan yang sama baiknya terhadap dua bahasa seperti halnya penguasaan oleh penutur asli. Istilah kedwibahasan (bilingualism) biasanya dipergunakan untuk kemampuan dan kebiasaan mempergunakan dua bahasa, istilah kedwibahasaan itu sering juga disebut sebagai kegandabahasaan (multilingualism). Dengan demikian, kedwibahasaan adalah menguasai dua bahasa, dan sukar diketahui mana bahasa ibunya. 
 
2.1.2 Hakikat Ranah
Dalam kajian sosiolinguistik, ranah (domain) tidak dapat dipisahkan dengan kedwibahasan. Ranah merupakan konteks atau situasi sosial yang memaksa penutur untuk memilih bahasa yang akan digunakan dalam berkomunikasi, dengan memperhatikan faktor orang (partisipan), lokasi peristiwa tutur, dan topik pembicaraan. Penggunaan ranah untuk menjelaskan perilaku penggunaan bahasa dalam masyarakat dwibahasa, serta menjelaskan pula bagaimana penggunaan bahasa dalam pemertahanan bahasa. Berdasarkan ranah pula, dapat dilihat bahasa manakah yang digunakan untuk interaksi intrakelompok maupun interaksi antarkelompok. 

2.1.3 Hakikat Pemilihan Bahasa
Dalam kajian sosiolinguistik, pemilihan bahasa oleh seorang penutur sangat berkaitan dengan sikap penutur dalam bahasa yang dipilihnya. Pemilihan bahasa pada masyarakat dwibahasa adalah mengubah variasi bahasa dari bahasa yang satu ke variasi yang lain atau bahkan mengubah bahasa yang digunakan dari bahasa satu ke bahasa yang lain, sehingga masyarakat penutur harus melakukan pemilihan bahasa, dengan menentukan bahasa yang mana yang akan digunakan masyarakat penutur untuk melakukan komunikasi dengan lawan bicaranya.

2.1.4 Hakikat Sikap Bahasa
Dalam masyarakat multilingual, sikap bahasa seseorang ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah topik pembicaraan, kelas sosial masyarakat pemakai, kelompok umur, jenis kelamin, dan situasi pemakaian. Sikap bahasa adalah kepercayaan, penilaian, dan pandangan terhadap bahasa, penutur atau masyarakatnya di dalam cara tertentu. Sikap bahasa bisa mempengaruhi seseorang untuk menggunakan suatu bahasa, dan bukan bahasa yang lain dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual.

2.1.5 Hakikat Pemertahanan dan Keterancaman Bahasa
Pemertahanan bahasa merupakan ciri khas dari masyarakat dwibahasa atau multibahasa yang terjadi pada masyarakat diglosik, yaitu masyarakat yang mempertahankan penggunaan beberapa bahasa untuk fungsi pada ranah yang berbeda. Berhasil atau tidaknya suatu pemertahanan bahasa, sangat bergantung pada perkembangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat.

2.1.6 Hakikat Bahasa Melayu Betawi
Secara historis linguistis bahasa Melayu Betawi adalah sebuah areal bahasa Melayu yang sejak berabad-abad selalu berkembang di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Bahasa ini menjadikan penduduk Jakarta mempunyai alat komunikasi yang verbal, yang disebut sebagai suku Betawi. Dilihat dari daerah pemakaiannya, bahasa Melayu Betawi diidentikkkan dengan wilayah DKI Jakarta. Akan tetapi, saat ini penggunaan bahasa Melayu Betawi tidak hanya digunakan di wilayah DKI Jakarta saja, tapi meluas dari kota Bogor, Bekasi, Tanggerang, dan sebagaian kecil di kota Karawang.

 

Latifah - Ringkasan Skripsi Nilai Moral Dalam Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Karya Eka Kurniawan: Kajian Sosiologi Sastra



Ringkasan skripsi dengan judul:

NILAI MORAL DALAM NOVEL SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS KARYA EKA KURNIAWAN: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA
Karangan: JABBAR RAMDHANI (2125083002), 2015

Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra ialah sebuah penelitian karya sastra sebagai dokumen sosiobudaya yang mencerminkan suatu zaman. Salah satu tokoh kesusasteraan Indonesia yang mempopolerkan sosiologi sastra sebagai pisau bedah terhadap karya sastra adalah Sapardi Djoko Damono.
Aspek dalam sosiologi sastra dibagi menjadi tiga, yaitu sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra, dan sosiologi yang mempermasalahkan pembaca dan pengaruh karya sastra. Pendekatan sosiologi sastra dipakai untuk membedah karya sastra dengan fokus berupa masalah hubungan teks dengan masyarakat.

Novel
Novel merupakan karya fiksi yang menyajikan berbagai masalah kehidupan. Novel bersifat cerita mengenai suatu kejadian luar biasa dari kehidupan tokoh yang melahirkan suatu konflik sehingga mengalihkan jurusan nasib mereka.

Nilai dan Moral
Nilai merupakan gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti atau tidak. Sedangkan moral mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia. Franz Magnis Suseno menyebutkan dalam kehidupan sosial ada tiga macam norma umum, norma hukum, norma sopan santun, dan norma moral.
Seseorang yang bersikap moral memerlukan kesadaran aas hak dan kewajiban yang dimilikinya. Kesadaran ini muncul setelah adanya interaksi dati tiga struktur kesadaran Freud yaitu id, ego dan superego.
Ciri-ciri nilai moral yaitu; (1) berkaitan dengan tanggung jawab tiap insan; (2) berkaitan dengan hati nurani; (3) mewajibkan  atau tidak bisa ditawar-tawar; (4) bersifat formal.
Teori-teori filsafat moral adalah; (1) Hedonisme. Aristippos (sekitar 433-355 SM) mengatakan yang sungguh baik bagi manusia adalah kesenangan. Namun Franz Magnis Suseno menyebutkan kebahagiaan yang dimaksud bukanlah ketika manusia sebanyak-banyaknya mendapatkan kenikmatan, tapi juga menghindari perasaan tidak enak; (2) Eudemonisme. Aristoteles (384-322 SM) berpendapat jika ada manusia yang menjalankan fungsinya sebagai manusia dengan baik, ia juga mencapai tujuan terakhirnya yaitu kebahagiaan; (3) Utilitarianisme. Franz Magnis Suseno berpendapat dengan utilitarianisme manusia selalu bertindak sedemikian rupa hingga sebanyak mungkin orang dapat sebahagia mungkin; (4) Deontologi. Merupakan sistem filsafat yang mengukur baik atau tidaknya sebuah perbuatan yang bergantung pada wajib tidaknya pernuatan dan keputusan individu.

Struktural: Naratologi
Untuk dapat membahas secara sosiologi sastra, maka harus ada pembedahan secara struktural. Naratologi dengan menyajikan struktur cerita yang tersaji dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mendaftarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita. Melalui daftar peristiwa tersebut didapati informasi subjek.

Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir yang dilakukan oleh penulis yaitu membedah novel dengan pendekatan sosiologi sastra. Dari sana muncul lah fenomena yang dikaji nilai moralnya. Kemudian penulis memaparkan dalam bentuk naratif deskriptif.


Latifah
2125142208



BAB II KAJIAN TEORI Oleh Dhika Anggoro Satrio



2.1 Deskripsi Teori
2.1.1 Autisme
Autisme merupakan sebuah sindroma yang memunculkan gangguan perilaku seseorang yang meliputi gangguan komunikasi, sosialisasi, serta ekspresi diri, akibat dari adanya hambatan dalam perkembangannya. Penyandang autisme cenderung menjadi pribadi yang asyik dengan dunianya sendiri serta sulit membuka diri untuk hal-hal baru. Hal tersebut membuat penyandang autisme akhirnya mengalami kesulitan untuk memenuhi fungsi individual dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, maupun fungsi sosial dalam interaksi sosial.
Secara garis besar kriteria autisme dapat dilihat dari adanya kelainan/hambatan dalam aspek prilaku, interaksi sosial, dan komunikasi yang terjadi pada seseorang bahkan pada usia dini. Ada dua jenis prilaku pada penyandang autisme, yaitu hiperaktif dan pasif.
2.1.1.1 Hakikat Autisme
Autisme merupakan sebuah sindroma yang memunculkan gangguan perilaku seseorang yang meliputi gangguan komunikasi, sosisalisasi, serta ekspresi diri, akibat dari adanya hambatan dalam perkembangannya. Penyandang autisme cenderung menjadi pribadi yang asyik dengan dunianya sendiri serta sulit membuka diri untuk hal-hal yang baru. Hal tersebut membuat penyandang autisme mengalami kesulitan untuk memenuhi fungsi individual dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, maupun fungsi sosial dalam interaksi sosial.
2.1.1.2 Kriteria Autisme
            Secara garis besar kriteria autisme dapat dilihat dari adanya kelainan/hambatan dalam aspek perilaku, interaksi sosial, dan komunikasi yang terjadi pada seseorang bahkan pada usia dini. Ada dua jenis perilaku pada penyandang  autisme, yaitu hiperaktif dan pasif
2.1.1.3 Hambatan Komunikasi Penyandang Autisme
            Hambatan komunikasi pada penyandang autisme mencakup hambatan komunikasi verbal dan non-verbal. Kelemahan penguasaan bahasa yang dialami penyandang autisme dalam hal perkembangan penguasaan kosa kata, sintaksis, dan semantik.
2.1.2 Fungsi Komunikasi
            Setiap ujaran yang dituturkan oleh penutur pasti memiliki fungsi komunikasi yang sudah ada dalam pikiran mereka. Fungsi komunikasi disini mengacu
2.1.2.1 Pragmatik
A. Hakikat Pragmatik
Kata pragmatik berasal dari Bahasa Yunani, pragma, yang maknanya mengacu pada aktivitas atau peristiwa. C. Morris, menjelaskan bahwa pragmatik adalah telaah mengenai mengenai hubungan tanda-tanda dengan para penafsir. F.X. Nadar secara tradisional menyebutkan bahwa pragmatik merupakan kajian tentang bagaimana makna dikaitkan dengan penutur atau pemakai bahasa. Menurut Putu Wijana, pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji maksud penutur. Henry Guntur Tarigan mendefinisikan pragmatic sebagai sebuah telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi cara seseorang dalam menafsirkan kalimat. Hakikat pragmatik adlaah cabang ilmu linguistik yang mempelajari penggunaan bahasa.
B. Lingkup Kajian Pragmatik
            Lingkup kajian pragmatik mencakup persoalan bahasa itu sendiri sebagai bentuk tuturan, keseluruhan aspek yang menentukan kemunculan serta akibat kemunculan tersebut, juga mencakup tujuan atau maksud atau fungsi dari kemunculan tuturan tersebut. Pragmatik mempelajari apa yang disebut dengan tuturan performative, presuposisi, implikatur, entailment, konteks, serta prinsip kerja sama dan kesopanan.
2.1.2.2 Tindak Tutur
A. Hakikat Tindak Tutur    
            Hakikat tindak tutur adalah sebuah tindakan yang dilakukan melalui tuturan. Ketika seseorang bertutur, maka ia sedang melakukan sesuatu. Tuturan menjadi cerminan dari kehendak, bahkan tuturan tersebut pada akhirnya mampu mempengaruhi sikap dan pemikiran orang lain sehingga mewujudkan kehendak tersebut.
B. Jenis Tindak Tutur
1. Lokusi, Ilokusi, Perlokusi
a) Lokusi
Tindak lokusi adalah performansi tindak tutur yang hanya bertujuan untuk menyampaikan atau menginformasikan dan/atau mengatakan tanpa ada tendensi lain yang diharapkan penutur.
b) Ilokusi
Tindak ilokusi adalah performansi tindak tutur yang dilakukan dengan tujuan untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki. Konsep dasarnya adalah 'melakukan sesuatu dengan mengatakan sesuatu'. Tindak ilokusi merupakan sentral kajian tindak tutur dalam pragmatik dalam menginterpretasikan makna.
c) Perlokusi
Tindak perlokusi adalah performansi tindak tutur yang lebih terfokus terhadap dampak yang.ditimbulkan akibat suatu tuturan, atau bisa juga disebut dampak perlokusi. Tindak perlokusi merupakan tahap lanjutan dari tindak ilokusi yang memperhatikan apakah fungsi komunikasi sampai pada lawan tutur.
C. Aspek tindak Tutur
1. Penutur dan Lawan Tutur
Tarigan menjelaskan yang termasuk sebagai penutur dan lawan tutur adalah ‘pembicara/penulis dan pendengar/penyimak’. Penutur dan lawan tutur menjadi aspek utama sebagai pelaku berbahasa yang menggerakkan fungsi Bahasa tersebut.
2. Konteks Tuturan
Konsep tuturan adalah seluruh latar belakang pengetahuan yang menyertai tuturan sehingga mampu menunjang kemampuan lawan tutur dalam menginterpretasikan fungsi komunikasi dari ucapan tertentu yang dituturkan penutur.
2.2 Kerangka Berpikir
            Autisme merupakan sindroma yang dapat membuat penyandangnya kesulitan dalam memenuhi fungsi individual dan fungsi social. Kesulitan tersebut disebabkan oleh hambatan utama, yaitu hambatan prilaku, hambatan social, serta hambatan komunikasi.
            Penyandang autisme mengalami keterlambatan dalam berbicara dan berbahasa. Akibat dari hambatan tersebut, penyandang autisme terpaksa melakukan penyederhanaan ujaran sesuai keterbatasan kognitif yang mereka kuasai.
Dampak dari hambatan komunikasi pada penyandang autisme adalah fungsi komunikasi yang hendak disampaikan oleh penutur sulit dipahami. Untuk mengetahui fungsi komunikasi apa saja yang biasanya muncul pada ujaran penyandang autisme diperlukan IFID’s sebagai alat bantu proses penginterpretasian. IFID’s dapat menjadi rumusan yang membantu lawan tutur menyimpulkan pemaknaan fungsi komunikasi yang dikehendaki penutur.
2.3 Definisi Konseptual
            Penyederhanan ujaran pada penyandang autisme merupakan dampak dari hambatan komunikasi verbal. Hal tersebut membuat penyandang autisme tidak mampu memproduksi ujaran dengan utuh sehingga melakukan penyederhanaan ujaran sesuai dengan pemahaman yang mereka miliki. Keadaan itu membuat fungsi komunikasi sering kali tidak dapat diinterpretasikan dengan tepat oleh lawan tutur. Ada lima fungsi komunikasi ujaran berdasarkan teori Searle, yaitu reprentatif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif.
            Fungsi representasi, merupakan fungsi yang dimunculkan penutur untuk menyampaikan informasi. (2) Fungsi direkstif, merupakan fungsi yang dimunculkan untuk membuat lawan tutur melekukan sesuatu yang ia hendaki. (3) Fungsi komisif, merupakan fungsi yang mengikat penuturnya untuk melakukan apa yang telah diujarkannya tentang sesuatu yang terjadi. (4) Fungsi ekspresif, merupakan fungsi yang dimunculkan penutur untuk menggambarkan keadaan psikologisnya. (5) Fungsi deklaratif, merupakan fungsi yang dimunculkan penutur untuk menciptakan hal yang mampu menggambarkan sikap penuturnya.
2.4 Definisi Operasional
            Setiap tindak tutur pasti memiliki fungsi komunikasinya, termasuk juga pada penyandang autisme. Ujaran yang dituturkan seseorang mengandung lima fungsi komunikasi, yaitu reprentatif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif.

Ringkasan Landasan teori Dan Kerangka Berpikir Dalam srikpsi Pengunaanan bahasa pada papan nama di Jakarta Oleh: Muhamad Rifqi



2.1 Hakikat Sintaksis
Ahmad menyatakan bahwa sebagai subsistem bahasa sebagai subsistem bahasa, mempersoalkan hubungan antara kata dan satuan-satuan yang lebih besar yang disebut kalimat. Jadi sintaksis adalah sebuah cabnng ilmu liinguistik yang membahas konstruksi hubungan unsur pembangun kalimat yaitu kata, frasa dan klausa.
2.1.1 Satuan Sintaksis
Satuan sintaksis yang akan dibahas disini hanya dibahas pada tataran kata dan frasa sesuai dengan judul skripdsi penggunaan bahasa pada papan nama.
2.1.1,1 Kata
Kata menurut Chaer adalah kata adalah satuan terkecil dalam tataran sintaksis dan satuan terbesar dalam morfologi.dan kata adalah satuan terkecil dalam gramatikal yang bisa berpindah dalam kalimat.
Kata terbagi dalam beberapa kelas yang terbagi kelas verba,nomina, adjektiva, adverbia