Sabtu, 04 Juni 2016

RINGKASAN BAB II SKRIPSI Oleh Riska Yuvista




PENGGUNAAN BAHASA TABU DAAM NOVEL SI PARASIT LAJANG KARANGAN AYU UTAMI: SUATU KAJIAN STILISTIKA

2.1 Deskripsi Teoretis
2.1.1 Hakikat Novel
Novel berasal dari bahasa italia novella, yang, yang dalam bahasa Jerman Novelle, dan dalam bahasa Yunani Novellus. Novel merupakan salah satu bagian dari prosa berbentuk fiksi. Istilah fiksi  berarti rekaan (disingkat: cerkan) atau cerita khayalan yang merupakan hasil dialog kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Sehingga novel bersifat naratif dapat diartikan sebagai prosa imajinatif , namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.[1]
Novel bisa dikatakan sebagai salah satu karya sastra yang populer di berbagai kalangan karena kisah yang diceritakan mengulas persoalan kehidupan umumnya, novel merupakan suatu karya sastra yang banyak diterbitkan belakangan ini karena bermunculan pengarang-pengarang baru,  baik itu pengarang novel teenlet, chicklet maupun novel sastra. Jeremy Hawthron mengungkapkan dalam Aziez dan Hasim tentang pengertian novel yang artinya sebuah cerita fiksi dalam bentuk prosa yang cukup panjang sekarang biasanya cukup panjang untuk dimuat dalam satu volume atau lebih, yang tokoh-tokoh dan perilakunya merupakan cerminan kehidupan nyata di masa sekarang ataupun dimasa lampau, dan yang digambarkan dalam satu plot yang cukup kompleks.  Dapat disimpulkan novel merupakan sebuah genre sastra yang memiliki bentuk utama prosa, dengan panjang yang kurang lebih bisa untuk mengisi satu atau dua volume kecil, yang menggambarkan kehidupan nyata dalam suatu plot yang cukup komplek. Novel memiliki unsur-unsur intrinsik, tidak terlepas dari kajian struktural, karena memang dalam kajian struktural terdapat bahasa mengenai bagian-bagian dari unsur-unsur intrinsik tersebut. Berikut akan dipaparkan sedikit kajian struktural berdasarkan teori stanton.
2.1.1.1 Struktural Tema
Tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan makna dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman begitu diingat. Tema membaut cerita lebih terfokus, menyatu, mengercut, dan berdampak. Cerita. Tema adalah gagasan yang mendasari karya sastra dan terkadang didukung oleh pelukisan latar,  dalam karya lain tersitrat dalam lakuan tokoh, atau penokohan. Sehingga menjadi  faktor pengikat peristiwa-peristiwa dalam satu alur.
2.1.1.2 Struktural Fakta Cerita
Karakter, alur dan latar merupakan fakta-fakta cerita. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita, apabila dirangkum menjadi satu, semua elemen ini dinamakan struktur faktual atau tingkatan faktal cerita yang berarti cerita yang disorot dari satu sudut pandang. Unsur-unsur yang berkaitan dengan fakta cerita dapat dijelaskan sebagai berikut:
Alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal saja, peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain yang tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya. Sehingga dapat dikatakan bahwa alur merupakan tulang punggung cerita. Unsur berikutnya yaitu karakter yang biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam certa. Konteks kedua, karakter merujuk pada berbagai percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu tersebut. Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar juga berwujud waktu-waktu tertentu.
2.1.1.3 Struktural Sarana Cerita
Struktural sarana cerita yang menggunakan sudut pandang dan gaya bahasa dalam suatu karya sastra sebagai sarana cerita.[2] Terdapat empat sudut pandang yang terdapat pada novel, antara lain sudut pandang orang pertama-utama; sudut pandan orang ketiga-sampingan; sudut pandang orang ketiga-tidak terbatas; dan sudut pandang orang pertama-sampingan. Selain itu, gaya bahasa merupakan bagian dari sarana cerita  sebagai cara pengarang menggunakan cara bahasa.
Dalam sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter, dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. Pebedaannya secara umum terletak pada bahasa dan menyebar dalam berbagai aspek kerumitan, ritme, dan banyaknya imaji dan metafora.  Sehingga, dapat disimpulkan bahwa novel merupakan salah satu sarana pembelajaran sastra yang efektif di sekolah dalam rangka pembentukan karakter peserta didik menjadi yang lebih baik.
2.1.2 Hakikat Bahasa Tabu
Tabu atau pantangan diambil dari bahasa Toga yang berarri suatu pelarangan sosial yang kuat terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok , budaya, atau masyarakat. Tabu bersumber pada ketakutan, tabu yang berhubungan dengan sesuatu yang genting dan tidak mengeakkan, tabu yang bersuber dari rasa kesopanan, dan tabu yang berhubungan dengan masalah kesusilaan. Tabu juga membuat malu, aib, dan perlakuan kasar dari lingkungan sekitar.
Dalam kebanyakan masyarakat kata-kata yang berbau seks dianggap tabu, walaupun demikian agak menarik untuk disimak bahwa dalam banyak kasus dua kata atau ungkapan yang sama maknanya dapat diperlakukan secara berbeda. Tabu memegang peranan penting dalam bahasa. Masalah ini pun disinggung dalam ilmu semantuk, yang memperhatikan tabu sebagai penyebab berubahnya makna kata. Maka, tabu dikerucutkan menjadi tiga jenis, yaitu Taboo Of Fear (sesuatu yang menakutkan), Toboo Of Delicacy ( sesuatu yang tidak mengenakkan) dan Taboo Of Propriety (sesuatu yang tidak pantas)
2.1.2.1 Taboo Of Fear (sesuatu yang menakutkan)
Taboo Of Fear (sesuatu yang menakutkan), yang berhubungan dengan subjek dan objek yang bersifat supranatural telah menyebabkan larangan untuk menyebutkan nama secara langsung. Misalnya untuk menyebut nama Tuhan atau Allah, orang inggris menyapa Lord, orang Prancis dengan Seigneur, orang Jawa Gusti, orang Sikka dengan Amapu (Bapak Sang Pemilik, atau ‘Yang Di Atas’
2.1.2.2 Toboo Of Delicacy ( sesuatu yang tidak mengenakkan),
Toboo Of Delicacy ( sesuatu yang tidak mengenakkan), berhubungan dengan usaha manusia untuk menghindari pertunjukkan langsung kepada hal-hal yang tidak mengenakkan, seperti berbagai jenis penyakit dan kematian.  Penyakit yang sedang diderita oleh seseorang adalah sesuatu hal yang tidak mengenakkan bagi yang menderitanya. Penyakit-penyakit yang notabennya bersifat menjijikan lazimnya dengan penyebutan Desfeminis (Kata-kata yang tabu/ tidak enak didengar), dan sebaiknya diganti dengan bentuk penyebutan eufeminisme. Contoh pengungkapan penyakit yang akan tidak mengenakkan untuk didengar seperti ayan, kudis, borok, maka hendaknyanama penyakit tersebut diganti menjadi epilepsy, scabies dan abses.
2.1.2.3 Taboo Of Propriety (sesuatu yang tidak pantas)
Jenis tabu yang ketiga, Taboo Of Propriety (sesuatu yang tidak pantas) yang berkaitan dengan seks, bagian-bagian tubuh dan fungsinya, serta beberapa kata makian. Perilaku tabu dibedakan menjadi dua, yaitu (1) tabu perbuatan, misalnya larangan terhadap hubungan badan dengan saudara kanduang sendiri dan (2) tabu bahasa (perilaku verval), misalnya penggunaan kata makian.
2.1.3 Hakikat Stilistika
Stilistika (Stylistics) mengarah pada pengertian studi tentang style (gaya) yang meneliti fungsi puitik suatu bahasa.[3] Gaya yang dimaksud, yaitu gaya bahasa sebagi alat untuk meninggikan selera, artinya dapat meningkatkan minay pembaca/pendengar untuk mnegikuti apa yang disampaikan pengarang/pembicara, mempengaruhi dan meyakinkan pembaca/pendengar, menciptsksn perasaan hati tertentu dan memperkuat efek terhadap gagasan yang disampaikan. Gaya bahasa mencakup diksi, struktur kalimat, majas,citraan dan pola rima.
Objek utama analisis stilistika ialah teks dan wacana. Sehingga memiliki dua cara untuk memahami ruang lingkup stilistika, yaitu menggunakan analisis sistematis bahasa karya itu sendiri dan analisi mengenai ciri-ciri pembeda sebagai sistem dengan intensitas pada unsur keindahan. Gaya bahasa disebut pula majas. Gaya bahsa seseorang pada saat mengungkapkan perasaannya, baik secara lisan maupun tulisan dapat menimbulkan reaksi pembaca berupa tanggapan. Secara garis besar, gaya bahasa terdiri atas empat jenis, yaitu majas penegasan, majas pertentangan, majas perbandingan dan majas sindiran.
2.1.3.1 Majas Perbandingan
Majas Pebandingan terdiri dari (1) Majas Metafora, yaitu majas yang membandingkan dua hal secara langsung. (2) Majas Perumpamaan atua simile,  suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. (3) Majas Hiperbola,  yaitu suatu gaya bahasa yang bersifat melebih-lebihkan. Majas Eufemisme, majas yang mengungkapkan sesuatu dengan ungkapan yang lebih halus. (5) Majas Personifikasi, gaya bahasa yang melekatkan sifat insani kepada benda tak bernyawa dan ide yang abstrak. (6) Majas Depersonifikas, gaya bahsa yang melekatkan sifat benda pada manusia atau insan, (7) Majas Alegori, cerita yang dikisahkan dalam lambang-lambang. (8) Majas Antitetis, mengadakan perbandingan antara dua antonim, (9) Majas Antisipasi, mempergunakan lebih dahulu satu atau beberapa kata sebelum gaagsan atau peristiwa yang sebelumnya terjadi. (10) Majas Koreksio, gaya bahasa yang berupa penegasan sesuatu kemudian diperbaiki atau dikoreksi.
2.1.3.2 Majas Sindiran
Majas sindiran terdiri atas sepuluh gaya bahasa, antara lain (1) Majas Sinisme,  sindiran secara langsung. (2) Majas Sarkasme, majas paling kasar yang biasa nya diucapkan oleh orang yang sedang marah. (3) Majas Litotes, pernyataan yang dikecil-kecilkan. (4) Majas Ironi, makna yang bertentangan dengan maksud untuk berolok-olok. (5) Majas Zeugma adalah gaya bahasa yang menggunakan gabungan gramatikal, dan beberapa gaya sindiran bahasa laiinya.
2.1.3.3 Majas Penegasan.
Gaya bahasa yang digunakan untuk memberi penegasan atau memperjelas sesuatu. Pradopo menjelaskan bahwa majas menyebabkan karya sastra menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, lebih hidup, dan menimbulkan kejelasan gambaran angan,
2.1.4 Hakikat Pengajaran Sastra
Pengajaran tidak hanya berarti penamaan, melainkan terlebih lagi merupakan proses pemeliharaan, embinaan, dan penumbuhan dari apa yang ditanamkan ke arah perkembangan yang dijadikan tujuan pengajaran tersebut. Pengajaran sastra bertujuan membina dan menegmbangkan kepekaa siswa terhadap nilai-nilai, yaitu indrawi, nilai yang bersifat nalar, nilai bersifat afektif,  nilai sosial, ataupun gabungan keseluruhannya.
2.2 Nilai Relevan
Pada penelitian sebelumnya terdapat penelitian yang relevan diantaranya yaitu Gaya Bahasa Pengarang Dalam Novel Tempurung Karangan Oka Rusmini. Tempurunh adalah sebuah novel tentang hidup para perempuan berhadapan dengan tubuhnya, agama, budaya, dan masyarakat.
            2.3 Kerangka Berfikir
Novel berasal dari bahasa italia novella, yang, yang dalam bahasa Jerman Novelle, dan dalam bahasa Yunani Novellus. Novel merupakan salah satu bagian dari prosa berbentuk fiksi. Istilah fiksi  berarti rekaan (disingkat: cerkan) atau cerita khayalan yang merupakan hasil dialog kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Sehingga novel bersifat naratif dapat diartikan sebagai prosa imajinatif , namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.[4]
Novel memiliki unsur-unsur intrinsik ataralain, yaitu Struktural Tema; Struktural Fakta Cerita dan Struktural Sarana Cerita. Tema adalah gagasan yang mendasari karya sastra dan terkadang didukung oleh pelukisan latar,  dalam karya lain tersitrat dalam lakuan tokoh, atau penokohan. Sehingga menjadi  faktor pengikat peristiwa-peristiwa dalam satu alur. Bagian dari untus intrinsik novel berikutnya, yaitu struktural Fakta Cerita yang merupakan gabungan dari tiga elemen, antara lain karakter, alur dan latar yang berfungsi sebagai catatankrjadian imajinatif dari sebuah cerita. Sementara paada bagian cerita disorot dengan unsur sudut pandang. Berikutnya yaitu struktural sarana cerita yang menggunakan sudut pandang dan gaya bahasa dalam suatu karya sastra sebagai sarana cerita.[5] Terdapat empat sudut pandang yang terdapat pada novel, antara lain sudut pandang orang pertama-utama; sudut pandan orang ketiga-sampingan; sudut pandang orang ketiga-tidak terbatas; dan sudut pandnag orang pertama-sampinga. Selain itu, gaya bahasa merupakan bagian dari sarana cerita  sebagai cara pengarang menggunakan cara bahasa.
Beranjak paga hakikat yang melandai penilitai ini, yaitu Hakikat Bahasa Tabu dan Hakikat Stilistika, keduanya memiliki relevansi satu sama-lain. Tabu atau pantangan diambil dari bahasa Toga yang berarri suatu pelarangan sosial yang kuat terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok , budaya, atau masyarakat. Tabu bersumber pada ketakutan, tabu yang berhubungan dengan sesuatu yang genting dan tidak mengeakkan, tabu yang bersuber dari rasa kesopanan, dan tabu yang berhubungan dengan masalah kesusilaan. Maka, tabu dikerucutkan menjadi tiga jenis, yaitu Taboo Of Fear (sesuatu yang menakutkan), yang berhubungan dengan subjek dan objek yang bersifat supranatural telah menyebabkan larangan untuk menyebutkan nama secara langsung; Toboo Of Delicacy ( sesuatu yang tidak mengenakkan), berhubungan dengan usaha manusia untuk menghindari pertunjukkan langsung kepada hal-hal yang tidak mengenakkan, seperti berbagai jenis penyakit dan kematian. Jenis tabu yang ketiga, Taboo Of Propriety (sesuatu yang tidak pantas) yang berkaitan dengan seks, bagian-bagian tubuh dan fungsinya, serta beberapa kata makian.
Selain hakika tabu, hakikat stilistika turut mendasari penelitian ini. Stilistika (Stylistics) mengarah pada pengertian studi tentang style (gaya) yang meneliti fungsi puitik suatu bahasa.[6] Gaya yang dimaksud, yaitu gaya bahasa sebagi alat untuk meninggikan selera, artinya dapat meningkatkan minay pembaca/pendengar untuk mnegikuti apa yang disampaikan pengarang/pembicara, mempengaruhi dan meyakinkan pembaca/pendengar, menciptsksn perasaan hati tertentu dan memperkuat efek terhadap gagasan yang disampaikan. Gaya bahasa mencakup diksi, struktur kalimat, majas,citraan dan pola rima.
Objek utama analisis stilistika ialah teks dan wacana. Sehingga memiliki dua cara untuk memahami ruang lingkup stilistika, yaitu menggunakan analisis sistematis bahasa karya itu sendiri dan analisi mengenai ciri-ciri pembeda sebagai sistem dengan intensitas pada unsur keindahan.



[1] Ibid. Hlm 3
[2] Stanton.
[3] Panuti Sudjiman. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Pusaka Utama Grafiti.
[4] Ibid. Hlm 3
[5] Stanton.
[6] Panuti Sudjiman. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Pusaka Utama Grafiti.

RINGKASAN SKRIPSI OLEH NITA OKTAVIYA

RINGKASAN LANDASAN TEORI
(Judul Skripsi: Representasi “Cinta Abadi”  Taj Mahal Dalam Novel Taj Mahal Karya John Shors : Suatu Kajian Dekonstruksi)
2.1  Teori Struktural
Pendekatan Strukturalisme model Greimas lebih dulu digunakan sebelum menentukan unit analisis selanjutnya dalam kajian dekonstruksi. Pendekatan ini seringkali disamakan dengan pendekatan objektif karena menekan unsur otonom suatu karya sastra. Teori tersebut dijelaskan oleh Jean Peaget dalam Endraswara, strukturalisme mengandung tiga hal pokok, yaitu gagasan keseluruhan (wholness), gagasan transpormasi (transformation), dan gagasan keteraturan yang mandiri (self regulation).
Teori Strukturalisme dibagi berdasarkan pencetusnya serta apa saja yang dikajinya. Seperti yang dikenalkan oleh Robert Stanton. Robert Stanton dalam teorinya mengkaji fakta cerita, tema, dan sarana dalam suatu karya sastra. Selanjutnya, terdapat juga teori strukturalisme yang merupakan teori narasi atau disebut juga naratologi.
Penelitian yang  akan digunakan dalam hal ini ialah menggunakan teori naratologi AJ. Greimas, seorang naratolog dari Prancis. Teori ini memusatkan perhatiaannya pada telaah struktur cerita dengan mengandaikan bahwa struktur cerita analog dengan struktur sintaksis yang memiliki konstruksi dasar subjek predikat.
Model struktural Greimas merupakan kombinasi dari naratolog prastruktural, yakni model paradigmatik yang dikenal dengan sebutan actans. Model actans  merujuk kepada analisis peran tokoh serta mengasumsikan bahwa tindakan manusia mengarah pada tujuan tertentu. Dengan model ini, Greimas membaginya menjadi enam yang dikelompokkan menjadi tiga pasangan oposisi biner. Pendekatan struktural Greimas membantu dalam menentukan tindak tokoh dan menemukan oposisi biner untuk selanjutnya dibongkar melalui pendekatan dekonstruksi.
2.2  Teori Dekonsturksi
2.2.1        Teori Postmodernisme
Postmodernisme adalah pandangan yang berupa penolakan terhadap pandangan modernisme. Pandangan tersebut merupakan bagian dari pemikiran atau paham dari pendekatan dekonstruksi.
Pendekatan yang berada pada aliran postmodernisme memiliki gagasan dasar seperti mempertanyakan “rasionalitas” dan “epistemologi” secara radikal, begitu pun dengan pendekatan dekonstruksi.
2.2.2        Awal Perkembangan Teori Dekonstruksi
Dalam teori kontemporer dekonstruksi sering diartikan sebagai pembongkaran, pelucutan, penghancuran, penolakan, dan berbagai istilah dalam kaitannya dengan penyempurnaan arti semula. Berdasarkan definisi dekonstruksi tersebut, terdapat paham yang ditolak pahamnya oleh dekonstruksi. Paham tersebut ialah paham strukturalisme yang mewakilkan aliran modernisme, sedangkan dekonstruksi adalah wakil dari aliran postmodernisme.
2.2.3        Dekonstruksi Derida
Dekonstruksi merupakan bagian dari kelompok postmodernisme yang selalu ingin lepas dan putus dengan modernitas. Berbicara mengenai teori dekonstruksi, tidak dapat memisahkannya dengan pemikiran jacques Derrida, seorang filsuf Prancis kelahiran Aljazair yang merupakan tokoh aliran postmodernisme. Pandangannya terhadap modernitas itulah yang mendapat pengaruh dari strukturalisme serta fenomenologi. Pembongkaran yang dilakukan Derrida tertuju kepada struktur yang diagungkan oleh kaum strukturalis. Kesuperioran tuturan oleh Derrida dibongkar dengan penemuan difeerance yang membuktikan argumennya bahwa tulisan tidak selalu menjadi inferior. Selain konsentrasinya terhadap pemaknaan bahasa, dekonstruksi juga bisa dirumuskan sebagai cara atau membaca teks. Oleh sebab itu, metode ini dikembangkan pula di bidang susastra.
2.2.4        Teori Dekonstruksi Membongkar Teks Sastra
Pembacaan karya sastara, menurut paham dekonstruksi dimaksudkan untuk menemuan makna kontradiktifnya (makna ironisnya). Hal itu ditekankan karena dekonstruksi memungkinkan sebuah teks memiliki multimakna, teks sastra dipandang sangat kompleks. Dekonstruksi mencoba membongkar makna beserta kekuatan yang berada di belakangnya, yang telah memproduksi representasi. Melalui dekonstruksi, pembaca bisa memiliki kesempatan untuk membaca apa yang tidak disampaikan dalam teks.

RESENSI NOVEL KAMBING DAN HUJAN KARYA MAHFUD IKHWAN OLEH NITA OKTAVIYA




RESTU DI PERSIMPANGAN ZAMAN
Judul               : Kambing dan Hujan
Penulis            : Mahfud Ikhwan
Penerbit          : Bentang Pustaka
Edisi               : Cetakan Pertama, Mei 2015
Tebal              : 374 Halaman
Harga              : Rp. 69.000
            Berbicara mengenai kepenulisan, kini banyak bermunculan ajang kepenulisan yang mencari penulis dengan tujuan merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang di Indonesia. Seperti ajang Sayembara Menulis Novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta di setiap tahunnya. Pada tahun 2014, Dewan Kesenian Jakarta menobatkan Mahfud Ikhwan sebagai pemenang dalam Sayembara Menulis Novel dengan karya yang berjudul Kambing dan Hujan. Sebelum memenangkan kontes Sayembara Menulis Novel ini, Mahfud Ikhwan pernah menuliskan novel pertamanya yang berjudul “Ulid” di tahun 2009, namun sayangnya tidak sampai pada tangan pembaca dikarenakan proses penerbitan yang cukup menguras nuraninya untuk bersabar dan memilih untuk memunculkan karya berikutnya.
Novel Kambing dan Hujan yang diterbitkan pada tahun 2015 ini mendapat sambutan hangat serta banjir pujian dari para penikmat sastra yang suka akan bacaan populer. Lantaran genre yang diusung dalam novel ini merujuk pada pembaca remaja, Mahfud Ikhwan yang merupakan mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Gajah Mada mencoba membuka perspektif orang mengenai dua hal yang amat kontroversional di Indonesia, yakni mengenai dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU. Konflik yang sejatinya perihal masalah pilihan, kemudian dibalut dengan kisah cinta antara Fauzia dan Miftah. Konflik antara dua anak muda ini lantas membuka tabir rahasia yang membuat kedua orang tuanya saling berseberangan pendapat.
Novel ini mulanya berkisah dari dua orang yang saling bersahabat, Mat dan Is. Keduanya pada masa itu tahun 1960’an menjadi bocah angon yang menggembala kambing desa. Keduanya berasal dari keluarga yang berbeda, Mat lebih beruntung sehingga ia dapat menuntaskan pendidikannya di Pondok Pesantren Jombang. Setelah menamatkan SR (Sekolah Rakyat)-sebutan bagi sekolah dasar yang ada pada masa penjajahan Jepang-Mat dan Is berpisah. Is tetap berada di desanya, desa Tegal Centong untuk tetap menjadi pengembala kambing serta memutuskan belajar mengaji dengan Cak Ali.
Singkat waktu, persahabatan keduanya menjadi mengkhawatirkan oleh karena Is menjadi pemuda Centong yang mencoba membawa pembaruan terhadap agama Islam di desa tersebut. Kesenjangan antara golongan tua dan golongan muda-tentunya Is dan kawan-kawannya-mulai terlihat. Hal tersebut diperlihatkan saat Is dan kawan-kawannya membangun sebuah musholla dengan kegiatan solat subuh tanpa qunut ataupun hal-hal yang mereka anggap bid’ah. Mat yang mengetahui hal tersebut sangat menyesali yang dilakukan Is, oleh sebab Is membawa pembaruan dengan cara yang tidak mudah diterima oleh golongan kaum tua, hal ini seperti menyuguhkan kopi kepada tamu dengan cara membentak. Kisah keduanya menjadi ujung jawaban atas cinta Mif dan Zia. Mif adalah seorang anak dari Pak Kandar, Iskandar tepatnya, sedangkan Zia adalah seorang anak dari Pak Fauzan, Muhammad Fauzan yang dulunya dipanggil Mat.
Miftakhul Abrar atau yang disebut Mif tumbuh dalam tradisi Islam modern. Berbeda dengan Fauzia yang merupakan anak seorang tokoh Islam tradisional. Namun, latar belakang keduanya malah membuat jurang yang ingin memisahkan oleh karena perbedaan tata cara beribadah maupun waktu hari raya. Konflik antara sepasang anak dan sepasang ayah sekaligus sahabat ini menggambarkan bagaimana perbedaan memang benar-benar bisa menjadi penghalang besar.  Sebuah tembok yang memisahkan dua insan yang begitu mencintai satu sama lain, dan dua orang yang saling menyayangi dan menghormati, yang semasa kecil sering angon bareng itu.

"Kita dulu mengira bapak-bapak kita adalah dua musuh bebuyutan yang tak terdamaikan. Ternyata, mereka dua sahabat karib, bahkan memanggil dengan panggilan "saudara". Bukannya itu justru sangat menggembirakan?" -Kambing dan Hujan, hlm. 52

Bila ketika hujan, Mat dan Is akan meneduhkan kambingnya, hal itulah yang kemungkinannya sangat kecil mempertemukan kambing dengan hujan, meskipun hal tersebut bukan berarti tidak  mungkin. Sama seperti judulnya, Kambing dan Hujan bagaikan analogi antara minyak dan air yang keduanya sama-sama tergolong zat cair tetapi bila disatukan akan seperti memisah. Sama seperti Mat dan Is, keduanya bertentangan soal golongan, Mat ada pada golongan kaum tua atau Muhamadiyah, sedangkan Is berada golongan kaum tua atau Nahdatul Ulama. Pada kenyataannya, kedua golongan Islam ini seolah-olah membuat beda diantara sesama muslim. Begitulah Muhamadiyah-NU berusaha membuat satu sebagai muslim.
Buku-buku dan pengalamannya saling bekerjasama agar Mahfud dapat menuliskannya dalam sebuah novel yang kini menyentil kehidupan nyata yaitu bersatunya NU dan Muhammadiyah yang ada pada masa kini. Meskipun hal tersebut sampai kapanpun tidak akan bersatu sebab merupakan dua hal yang kontradiktif.
Novel yang menggunakan bahasa populer namun tetap tidak keluar pada kaidah berbahasa yang sopan meski tidak baku membuat pembacanya tidak akan merasa kesulitan menangkap makna yang dikandung. Alur yang digunakan ialah alur maju dengan menggunakan cerita berbingkai dimana terdapat cerita lagi di dalam cerita. Selain itu, hal yang menarik dalam novel ini yaitu sampulnya yang bergambar botol susu perah ini bukanlah menceritakan tentang hewan yang sungguhan, inilah kelebihan novelnya ketika sampul terlihat "tidak serius" namun isi cerita di dalam buku jauh dari novel sastra-sastra lain yang bercerita lebih mengalir, sederhana, dan mudah dicerna. Meski demikian, novel ini menjadi lebih menjenuhkan ketika bacaan demi bacaan terlihat lebih padat karena tata letak tulisan tidak dibuat menjadi sub bab,
Novel roman yang mengisahkan peliknya permasalahan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini mampu memikat hati pembaca. Menariknya novel ini merupakan sebuah bacaan yang bermanfaat agar kita tidak terlalu kaku dan radikal dalam menghadapi dua hal yang kontradiktif.



RESENSI BUKU SEJUTA RASANYA oleh Ria Tri Rahayu

Sejuta Cerita dari Tere Liye


Seorang penulis tentu akan menulis bagaimana pendapatnya tentang suatu hal. Tentang cara ia memandang kehidupan, tentang bagaimana ia ingin pembacanya tahu apa yang menjadi keresahannya. Tidak terkecuali bagi Tere Liye, penulis dengan sejuta pembaca ini meluncurkan buku fiksi terbaru pada tahun 2012 berjudul "Berjuta Rasanya". Tere Liye adalah nama pena dari Darwis.
Ia adalah salah satu penulis best seller yang telah menerbitkan sekitar 21 buku. Beberapa bukunya telah diadaptasi dalam bentuk film. Berbeda dari penulis yang lain, Tere Liye tidak ingin kehidupannya diketahui publik. Sedikit biodatanya yang beredar di internet. Bahkan pada halaman terakhir setiap bukunya, yang lazimnya adalah biografi penulis Tere Liye tidak mencantumkan sedikitpun mengenai kehidupannya.
Cerita yang dituangkan oleh Tere Liye dalam bukunya kali ini berisi tentang perasaan orang-orang yang sedang jatuh cinta dengan penuh rasa dan warna yang berbeda-beda. Terdapat 15 cerpen dengan tema yang sama yaitu tentang cinta. Buku terbitan Mahaka Publishing pada tahun 2012. Buku ini tidak begitu tebal, hanya 205 halaman. Harga yang tidak begitu mahal dibandingkan bukunya yang lain, hanya empatpuluh ribu rupiah. Kumpulan cerpen ini berpenampilan sederhana, dengan kulit buku putih dan terdapat pohon yang terbuat dari gabungan gambar hati berwarna-warni dengan judul berwarna ungu ditambahkan logo best seller di bawah nama penulis. Hanya saja kertas yang digunakan mudah muncul bercak kuning.
Dibuka dengan sebuah cerpen yang mengisahkan seorang perempuan bernama Vin dan mempunyai sahabat bernama Josephine. Merasa dirinya tidak menarik, suatu hari ia berdoa kepada Tuhan agar ia cantik namun tidak berhasil. Justru orang-orang disekitarnya yang bertambah cantik. Sebuah kutipan yang menohok dari cerpe ini adalah sebagai berikut: Seseorang yang mencintaimu karena fisik maka suatu hari juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk (Halaman 26).
Menggunakan bahasa yang tidak rumit, ada beberapa gaya bahasa seperti mendongeng. Meskipun cerpen-cerpen Tere Liye dalam buku ini berkesan mendalam namun sarat akan makna dan menyadarkan kita tentang cinta anak muda yang berjuta rasanya. Bagi seorang penulis yang terbiasa menulis buku dengan tema kehidupan yang rumit buku ini begitu ringan untuk ukuran penulis seperti Tere Liye. Semoga dengan membaca buku ini muncul pemahaman baik bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama dengan kita, tidak peduli sesederhana apapun itu.


“KETERKAITAN HUBUNGAN KARAKTER TOKOH UTAMA DENGAN KONFLIK YANG TERJADI DALAM KUMPULAN CERPEN KLOP KARYA PUTU WIJAYA”

Oleh: RIA TRI RAHAYU


2.1.1. Hakikat Cerita Pendek

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV dijelaskan mengenai pengertian cerita pendek. Cerita pendek atau cerpen merupakan sebuah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh di dalam satu situasi (pada suatu ketika). Hal tersebut tentu berbeda dengan novel yang notabenenya juga merupakan karya sastra jenis prosa namun isi dalam novel lebih kompleks daripada cerpen. Maka daapat disimpulkan ciri-ciri dari cerpen antara lain: Alur lebih sederhana, tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang, latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas, tema dan nilai-nilai kehiduan yang disampaikan relatif sederhana
Peristiwa dalam cerita maupun cerita pendek atau novel berwujud hubungan antartokoh, tempat, waktu, dan waktu yang membentuk satu kesatuan. Kemudian rangkaian peristiwa demi peristiwa dalam cerita akan tercipta sebuah konflik. Pengarang harus terampil dalam mengarang dan mengolah kata-kata karena kata-kata adalah senjata utama pengarang dalam menciptakan sebuah efek dalam cerpen kepada pembaca. 

2. 1. 2. Hakikat Struktural

Teori struktural Robert Stanton membagi unsur intrinsik fiksi menjadi tiga bagian, yaitu: tema, fakta cerita (alur, karakter, dan latar) dan sarana cerita (judul, sudut pandangan, gaya dan tone, simbolisme dan ironi).  Makna unsur-unsur karya sastra hanya akan dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya atas dasar pemahaman keseluruhan. Maka, perlu sebuah analisis struktural yang dapat menggali sepenuhnya makna dari sebuah karya sastra. Pendekatan struktural sering juga dinamakan pendekatan objektif, pendekatan formal, atau pendekatan analitik. Pendekatan struktural mempunyai konsepsi dan berbagai kriteria, diantaranya:
Karya sastra dipandang dan diperlakukan sebagai sebuah sosok yang berdiri sendiri, yang mempunyai dunia sendiri, serta mempunyai rangka dan bentuknya sendiri.
Memberi penilaian terhadap keserasian atau keharmonisan semua komponen membentuk keseluruhan struktur. Mutu karya sastra ditentukan oleh emampuan penulis menjalin hubungan antarkomponen tersebut sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermkna dan bernilai estetik. 
Pendekatan struktural berusaha berlaku adil terhadap karya sastra dengan jalan hanya menganilis karya sastra tanpa mengikutsertakan hal-hal di luarnya. Unsur-unsur di dalam karya sastra memiliki sebuah kepaduan, keterkaitan yang saling memengaruhi.  

2. 1.2.1. Hakikat Karakter

Sebuah cerita pendek tidak akan hidup tanpa seorang tokoh. Seorang tokoh yang memiliki berbagai macam karakter. Berbicara mengenai karakter tidak bisa dilepaskan dari yang namanya penokohan atau perwatakan, yaitu bagaimana tokoh-tokoh dalam ceritaya. Pengungkapan karakter setiap pengarang berbeda-beda, ada beberapa cara yang dapat dipergunakan oleh pengarang untuk melukiskan karakter setiap tokoh:
Physical description ( melukiskan bentuk fisik)
Potrayal of thought stream or concious thought (melukiskan melalui jalan pikiran tokoh)
Reaction to events (melukiskan dengan reaksi pada setiap kejadian)
Direct author analysis (pengarang melukiskan karakter secara langsung)
Discussion of environment ( pengarang melukiskan keadaan yang ada)
Reaction to others about / to character (pengarang melukiskan bagaimana pandangan tokoh terhadap tokoh lain)
Teknik pengungkapan karakter secara langsung dari pengarang bisa dikenal dengan teknik analitik. Sementara teknik yang memerlukan peristiwa atau gambaran lain untuk bisa mengetahui karakter sebuah tokoh disebut dengan teknik dramatik. Dalam teknik dramatik ini pengarang tidak menampilkan secara rinci bagaimana karakter tokoh namun ia menampilakn peristiwa dan tindakan si tokoh. 

2.1.2.2 Hakikat Tokoh Utama
Dalam sebuah cerita biasanya pembaca akan dihadapkan pada sejumlah tokoh yang dihadirkan didalamnya. Ada tokoh yang berperan penting ada juga tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali saja dalam cerita. Tokoh yang pertama disebutkan tadi adalah tokoh utama cerita (main character), sedangkan yang kedua adalah tokoh tambahan (peripheral character). Tokoh utama adalah tokoh yang dikenai kejadian dan konflik penting yang memengaruhi perkembangan plot. Tokoh utama memiliki peranan yang penting, karena secara langsung atau tidak tokoh utama adalah pembawa alur cerita. Selain itu tokoh utama juga menentukan kemana cerita itu akan dibawa, begitu juga dengan konflik yang disuguhkan.

2.1.2.3 Hakikat Konflik
Konflik adalah inti alur cerita. Bagaimana bila sebuah cerita tidak ada konflik? Maka sudah pasti cerita tersebut tidak menarik karena seperti yang sudah dikatakan bahwa konflik adalah target atau inti dari cerita tersebut. Sebuah cerita tanpa konflik memang masih bisa berjalan namun cerita tersebut tidak akan menarik perhatian pembaca dan akan terasa hambar. 
  • Konflik dalam cerita ada berbagai macam, yakni:
  • Konflik manusia dengan manusia (konflik batin)
  • Konflik manusia dengan sesama
  • Konflik manusia dengan lingkungannya.
  • Konflik manusia dengan Tuhan atau keyakinannya.
Kehadiran karya sastra bukan lagi hanya menjadi hiburan semata namun juga menjadi perenungan akan berbagai macam konflik dalam kehidupan manusia. Konflik yang diberikan pengarang kepada pembaca melalui cerpen bisa dikembangkan kembali menjadi cerita pendek yang baik dengan pemecahan (kesimpulan pengarang) atau tidak. Penyelesaiannya diserahkan kepada pembaca karena pengarang menganggap bahwa pembaca sudah cukup dewasa dan mempunyai pandangan hidup yang beragam. 
Banyak pengarang yang menyerahkan akhir dari sebuah cerita kepada pembaca membuktikan bahwa pengarang beranggapan bahwa pembaca memiliki pandagan hidup dan pola pikir yang berbeda-beda. Jadi, dengan begitu pengarang tidak memaksakan gagasan yang dimilikinya untuk ditelan mentah-mentah oleh pembaca. 

Jumat, 03 Juni 2016

RINGKASAN BAB II SKRIPSI Oleh: RIA TRI RAHAYU




2.1.1. Hakikat Cerita Pendek

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV dijelaskan mengenai pengertian cerita pendek. Cerita pendek atau cerpen merupakan sebuah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh di dalam satu situasi (pada suatu ketika). Hal tersebut tentu berbeda dengan novel yang notabenenya juga merupakan karya sastra jenis prosa namun isi dalam novel lebih kompleks daripada cerpen. Maka daapat disimpulkan ciri-ciri dari cerpen antara lain: Alur lebih sederhana, tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang, latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas, tema dan nilai-nilai kehiduan yang disampaikan relatif sederhana
Peristiwa dalam cerita maupun cerita pendek atau novel berwujud hubungan antartokoh, tempat, waktu, dan waktu yang membentuk satu kesatuan. Kemudian rangkaian peristiwa demi peristiwa dalam cerita akan tercipta sebuah konflik. Pengarang harus terampil dalam mengarang dan mengolah kata-kata karena kata-kata adalah senjata utama pengarang dalam menciptakan sebuah efek dalam cerpen kepada pembaca. 

2. 1. 2. Hakikat Struktural

Teori struktural Robert Stanton membagi unsur intrinsik fiksi menjadi tiga bagian, yaitu: tema, fakta cerita (alur, karakter, dan latar) dan sarana cerita (judul, sudut pandangan, gaya dan tone, simbolisme dan ironi).  Makna unsur-unsur karya sastra hanya akan dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya atas dasar pemahaman keseluruhan. Maka, perlu sebuah analisis struktural yang dapat menggali sepenuhnya makna dari sebuah karya sastra. Pendekatan struktural sering juga dinamakan pendekatan objektif, pendekatan formal, atau pendekatan analitik. Pendekatan struktural mempunyai konsepsi dan berbagai kriteria, diantaranya:
Karya sastra dipandang dan diperlakukan sebagai sebuah sosok yang berdiri sendiri, yang mempunyai dunia sendiri, serta mempunyai rangka dan bentuknya sendiri.
Memberi penilaian terhadap keserasian atau keharmonisan semua komponen membentuk keseluruhan struktur. Mutu karya sastra ditentukan oleh emampuan penulis menjalin hubungan antarkomponen tersebut sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermkna dan bernilai estetik. 
Pendekatan struktural berusaha berlaku adil terhadap karya sastra dengan jalan hanya menganilis karya sastra tanpa mengikutsertakan hal-hal di luarnya. Unsur-unsur di dalam karya sastra memiliki sebuah kepaduan, keterkaitan yang saling memengaruhi.  

2. 1.2.1. Hakikat Karakter

Sebuah cerita pendek tidak akan hidup tanpa seorang tokoh. Seorang tokoh yang memiliki berbagai macam karakter. Berbicara mengenai karakter tidak bisa dilepaskan dari yang namanya penokohan atau perwatakan, yaitu bagaimana tokoh-tokoh dalam ceritaya. Pengungkapan karakter setiap pengarang berbeda-beda, ada beberapa cara yang dapat dipergunakan oleh pengarang untuk melukiskan karakter setiap tokoh:
Physical description ( melukiskan bentuk fisik)
Potrayal of thought stream or concious thought (melukiskan melalui jalan pikiran tokoh)
Reaction to events (melukiskan dengan reaksi pada setiap kejadian)
Direct author analysis (pengarang melukiskan karakter secara langsung)
Discussion of environment ( pengarang melukiskan keadaan yang ada)
Reaction to others about / to character (pengarang melukiskan bagaimana pandangan tokoh terhadap tokoh lain)
Teknik pengungkapan karakter secara langsung dari pengarang bisa dikenal dengan teknik analitik. Sementara teknik yang memerlukan peristiwa atau gambaran lain untuk bisa mengetahui karakter sebuah tokoh disebut dengan teknik dramatik. Dalam teknik dramatik ini pengarang tidak menampilkan secara rinci bagaimana karakter tokoh namun ia menampilakn peristiwa dan tindakan si tokoh. 

2.1.2.2 Hakikat Tokoh Utama
Dalam sebuah cerita biasanya pembaca akan dihadapkan pada sejumlah tokoh yang dihadirkan didalamnya. Ada tokoh yang berperan penting ada juga tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali saja dalam cerita. Tokoh yang pertama disebutkan tadi adalah tokoh utama cerita (main character), sedangkan yang kedua adalah tokoh tambahan (peripheral character). Tokoh utama adalah tokoh yang dikenai kejadian dan konflik penting yang memengaruhi perkembangan plot. Tokoh utama memiliki peranan yang penting, karena secara langsung atau tidak tokoh utama adalah pembawa alur cerita. Selain itu tokoh utama juga menentukan kemana cerita itu akan dibawa, begitu juga dengan konflik yang disuguhkan.

2.1.2.3 Hakikat Konflik
Konflik adalah inti alur cerita. Bagaimana bila sebuah cerita tidak ada konflik? Maka sudah pasti cerita tersebut tidak menarik karena seperti yang sudah dikatakan bahwa konflik adalah target atau inti dari cerita tersebut. Sebuah cerita tanpa konflik memang masih bisa berjalan namun cerita tersebut tidak akan menarik perhatian pembaca dan akan terasa hambar. 
  • Konflik dalam cerita ada berbagai macam, yakni:
  • Konflik manusia dengan manusia (konflik batin)
  • Konflik manusia dengan sesama
  • Konflik manusia dengan lingkungannya.
  • Konflik manusia dengan Tuhan atau keyakinannya.
Kehadiran karya sastra bukan lagi hanya menjadi hiburan semata namun juga menjadi perenungan akan berbagai macam konflik dalam kehidupan manusia. Konflik yang diberikan pengarang kepada pembaca melalui cerpen bisa dikembangkan kembali menjadi cerita pendek yang baik dengan pemecahan (kesimpulan pengarang) atau tidak. Penyelesaiannya diserahkan kepada pembaca karena pengarang menganggap bahwa pembaca sudah cukup dewasa dan mempunyai pandangan hidup yang beragam. 
Banyak pengarang yang menyerahkan akhir dari sebuah cerita kepada pembaca membuktikan bahwa pengarang beranggapan bahwa pembaca memiliki pandagan hidup dan pola pikir yang berbeda-beda. Jadi, dengan begitu pengarang tidak memaksakan gagasan yang dimilikinya untuk ditelan mentah-mentah oleh pembaca. 

Resensi Novel Hujan Oleh Riska Yuvista



Hujan Perantara Rindu


Judul Buku: Hujan
Penulis :Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2016
Tebal Buku : 320 halaman
Harga : 68.000
ISBN :978-602-03-2478-4
Lail mengangguk, menyeka matanya. Dia sedang menangis. Air hujan membuat air matanya tidak terlihat. “Kita harus mencari tempat berteduh, sebelum hujan deras,” anak laki-laki itu berkata pelan. Dia lantas memegang lengan Lail, mengajaknya berlari menembus gerimis sekaligus riuh rendah akibat gempa (halaman 33). Itulah pertama kali Lail bertemu dengan Esok. Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun lebih tua darinya.
Lail seorang anak belia yang mesih duduk di bangku SMA dan tinggal di sebuah panti, sejak saat itu ia tergabung dalam organisasi relawan bersama Maryam, sahabatnya. Sementara Esok yang membunyai nama asli Soke Bahtera ialah pria yang Lail kenal ketika gempa vulkanik, saat itu Lail menyelamatkan Esok, sejak saat itu mereka menjalin hubungan yang lebih dekat. Mereka saling memendam rasa, namun Lail ragu akan perasaannya kepada Esok perihal mereka berasal dari keluarga yang memiliki status sosial yang berbeda, Esok merupakan anak angkat walikota, sementara Lail hanyalah seorang anak yang tinggal di panti. Namun, perihal itu bukan menjadi permasalahan bagi nya, mereka tetap berhubungan baik, Lail begitu dekat dengan keluarga Esok. Akan tetapi, semenjak esok berkuliah di kota, ia semakin sibuk dengan tugas-tugasnya, ditambah dengan projek mereka hanya mempunyai waktu bertemu satu kali dalam setahun. Sembari menunggu Esok kembali, Lail menyibukkan diri dengan bergabung di organisasi relawan sambil sesekali mengunjungkin ibu Esok dan membantunya membuat kue. Beberapa tahun kemudian, Lail dan Maryam lolos di salah satu perguruan tinggi keperawatan, ia pun menjadi sibuk dengan kegiatan perkuliahannya dan organisasi, hal itu membuat Lail sedikit bisa memendam rindu kepada Esok.
Esok memiliki seorang adik angkat perempuan bernama Claudia, ia amat cantik dan berasal dari keluarga terhormat, membuat Lail khawatir dan merasa cemburu. Sebab, Esok dan Claudia hanyalah saudara angkat, Esok pun tidak pernah menunjukan tanda-tanda atau mengungkapkan perasaannya kepada Lail. Lail selau menunggu Esok kembali tanpa kepastian. Ia bercerita tentang perasaannya untuk Esok kepada sahabatnya, Maryam. Setelah mendengarkan semua ceritanya, Mariam memberikan nasihat dan pengertian kepada Lail bahwa “Ada orang yang sebaiknya hanya menetap dihati kita saja, tetapi tidak bisa tinggal dihidup kita, maka biarlah itu tinggal apa adanya, biar tinggal di hati dan diterima dengan lapang dada. Toh, dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik, justru memberikan kedamaian”.Sejak saat itu Lail memutuskan untuk melupakan Esok dan pergi ke dokter Elijah untuk menghapus semua kenangan tanpa kepastian tentang Esok.
Tere Liye menceritakan kisah rumit ini  menggunakan alur mundur, dengan membuat pembaca penasaran, bahkan harus menyelesaikan cerita untuk memahami secara keseluruhan. Kisah ini diceritakan dengan kalimat-kalimat yang santai dan mudah dipahami, siapapun yang membaca kisah ini akan hanyut di dalamnya. Pada bagian belakang buku tidak terdapat sinopsis cerita, hanya beberapa analogi dari bagian cerita yang diungkapkan dan buku tersebut tidak mencantumkan biografi penulis.